3. Kenapa hampir semua gereja di indonesia mengizinkan wanita berkhotbah/menjadi pendeta dan bahkan mengambil otoritas di gereja padahal Alkitab (1 Korintus 14:34-35) secara gamblang melarangnya?

Manuel Pardede

Jawab:

[DSB]:

Dalam 1 Korintus 14:34-35 yang berbunyi demikian:

Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.

Ada 2 tafsiran mengenai ayat tersebut:

Yang pertama tafsiran yang mengatakan bahwa kita harus menafsirkan ayat tersebut dalam konteks budaya pada jaman tersebut. Pada masa itu belum ada emansipasi wanita, sehingga hal yang berlaku di masyarakat adalah wanita sebagai masyarakat kelas dua atau derajat yang lebih rendah. Terlebih lagi pada masa itu kaum wanita tidak mengenyam pendidikan, maka wajar Paulus melarang wanita berbicara dalam pertemuan jemaat. Namun Paulus sendiri pada ayat sebelumnya (1 Korintus 11:5) lebih terbuka dengan mengatakan bahwa, wanita berdoa dan bernubuat. Maka kesimpulannya bagi penafsiran pertama ini, larangan ini hanya berlaku pada masa tersebut saja. Pada masa kini di mana emansipasi wanita sudah terjadi, pria dan wanita sederajat sehingga tidak perlu mengikuti larangan tersebut lagi. Pria maupun wanita boleh berkotbah, menjadi pendeta maupun penatua gereja. Pandangan inilah yang dianut oleh gereja-gereja yang mengijinkan hal tersebut.

Tafsiran yang kedua, memandang larangan ini bukan dalam kaitan perbedaan derajat antara pria dan wanita, melainkan perbedaan dalam struktur keluarga yang tercermin pada struktur kepemimpinan gereja. Tafsiran ini mengacu kepada 1 Korintus 11:3, 7 -12 yang berbunyi demikian:

Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah. (I Kor 11:3)

Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambarandan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. (I Kor 11:7-12)

Kita harus melihat struktur pria dan wanita, suami dan istri, ayah dan ibu dalam keluarga adalah perbedaan dalam hirarki kepemimpinan. Sama seperti dalam organisasi ada ketua dan wakil ketua. Keduanya punya derajat dan martabat yang sama, tetapi dalam memimpin ketua memiliki otoritas tertinggi. Pria dan wanita adalah sejajar di hadapan Allah (perhatikan kutipan I Korintus 11 ayat 12 di atas bahwa perempuan berasal dari laki-laki dan sebaliknya, dan semuanya berasal dari Allah). Namun hirarki struktur keluarga sudah ditetapkan Allah bahwa pria sebagai ayah adalah pemimpinnya. Nah, apabila pria harus memimpin wanita dalam keluarga, bagaimana dalam jemaat sang suami dapat dipimpin oleh istrinya? Bukankah akan terjadi konflik atau kebingungan antara siapa memimpin siapa?

Sebagian gereja berhenti pada penafsiran tersebut dengan mengambil kesimpulan akhir bahwa Alkitab hanya mengatur bagi wanita yang telah menikah. Sehingga bagi wanita yang belum menikah tidak ada halangan untuk menjadi pemimpin jemaat.

Namun perlu kita lihat lagi lebih lanjut referensi silang pada I Timotius 2:12-14.

Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. (I Timotius 2:12-14)

Dalam ayat ini maka jelaslah alasan Paulus melarang seorang wanita memimpin dan mengajar, adalah bukan karena posisi wanita yang lebih rendah kedudukannya dari pria pada masa itu, tetapi adalah karena:

  1. Secara hirarki pria lebih tinggi dari wanita (sekali lagi bukan derajat yang berbeda), dan hirarki ini ditetapkan Allah dengan Adam yang diciptakan terlebih dahulu.
  2. Wanita telah tergoda terlebih dahulu sehingga jatuh dalam dosa, maka pria sebagai implikasinya mempunyai tanggung jawab memimpin keluarga (dan jemaat) untuk hidup dalam kekudusan.

Ayat-ayat ini jelas tidak hanya berlaku untuk pria dan wanita yang telah menikah, tetapi berlaku untuk semua pria dan wanita. Maka dapat dimengerti bahwa sebagai implikasinya wanita bukan hanya dilarang untuk menjadi pendeta dan berkotbah dalam ibadah umum, tetapi juga dilarang untuk menempati posisi pemimpin (penatua dan diaken), seperti pada kutipan surat Paulus kepada Timotius di bawah ini:

Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang (I Timotius 3:2)

Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik (I Timotius 3:12)

Namun kita perlu juga melihat terdapat beberapa pengecualian, yaitu pada kisah Debora yang menjadi hakim Israel (Hakim-Hakim 4). Selain itu pada I Korintus 11:5 dan Yoel 2:28 mengatakan bahwa perempuan boleh bernubuat. Bagi yang menyetujui penafsiran yang kedua, ayat-ayat ini adalah pada kejadian-kejadian khusus yang tidak bisa diambil sebagai aturan yang umum. Yaitu pada saat Allah sendiri yang memberikan mandat dan karunia kepada wanita tertentu secara khusus untuk memimpin (Debora). Yoel 2:28 sendiri mengacu kepada kejadian turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta yang dicatat pada Kisah Para Rasul 2:1-13. Dalam hal ini kekristenan harus berhati-hati untuk tidak menerapkan Alkitab secara legalis, karena tidak tertutup kemungkinan Allah dapat bekerja dengan cara yang khusus seperti pada kasus Debora dan Yoel. Sedangkan untuk mengadopsi Yoel dan I Korintus 11:5 disimpulkan bahwa wanita boleh mengajar namun tidak dalam pertemuan ibadah raya di hari Minggu (kebaktian umum).

[CKM]:
Untuk penjelasan panjang lebar tidak memunkingkan disini. Secara singkat:

a. Dalam kontek kekristenan, sayap liberal meninggalkan penafsiran terhadap Kitab Suci yang tradisinal dan historical kepada penafsiran “baru” yang lebih konsisten/cocok dengan pandangan sekuler/duniawi.

b.  Untuk mencapai posisi wanita menjadi pengajar maka yang harus gereja lakukan adalah mengabaikan dan/atau menafsir ulang Kitab Suci. Masalahnya adalah begitu tercapai maka metode yang sama akan digunakan terhadap bagian lain dari kebenaran Kitab Suci.

c. Memang tidak ada korelasi antara pengangkatan wanita sebagai pengajar dengan kemurtadan. Tetapi secara umum kita bisa melihat secara berurutan jika posisi doctrinal ini diabaikan maka akan menuntun kesetiaan kita terhadap Kitab Suci. Namun, pengangkatan wanita menjadi pengajar bisa menjadi awal dari kemurtadan. Kita bisa lihat denominasi yang mengangkat wanita sebagai pengajar kelak akan setuju pada aborsi, homosex dan mengingkari ineransi Alkitab. Contohnya adalah denominasi Reformed terbesar di USA yaitu PCUSA pada tahun 1930 dan 1956 mengangkat wanita sebagai pengajar dan pemimpin, maka pada tahun 1973 mereka juga setuju pada pro choice/aborsi dan pada tahun 1987 juga mengakui homosex. Terbaru, mereka mensahkan pernikahan LGBT (beritanya bisa baca di http://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/06/19/presbyterians-allow-gay-marriage-ceremonies/10922053/)

d. Ada yang akan berpikir bukankah hal ini tidak memengaruhi doktrin penting/esensi, lantas mengapa dipermasalahkan? Jawabannya, justru ini adalah esensial terhadap iman Kristen. Terhadap hal-hal esensial kamu tidak bisa menolaknya tapi masih mengaku sebagai Kristen. Untuk menyetujui pengangkatan wanita sebagai pengajar maka yang harus dilakukan adalah menafsir ulang Kitab Suci. Kitab Suci secara jelas dalam Titus 1:5-6 ada tertulis,”Saya meninggalkan engkau di Kreta supaya engkau dapat mengurus hal-hal yang masih perlu diatur. Juga, supaya engkau mengangkat pemimpin-pemimpin jemaat di setiap kota. Dan ingatlah akan petunjuk-petunjuk saya ini: Seorang pemimpin jemaat hendaklah seorang yang tanpa cela; ia harus mempunyai hanya seorang istri; anak-anaknya harus sudah percaya kepada Kristus dan bukan yang dikenal sebagai anak berandal dan yang tidak bisa diatur”. Jadi ayat ini memberitahukan sebuah syarat yaitu pemimpin jemaat itu haruslah seorang suami dari satu orang istri dan wanit tidak boleh mengajar atau memerintah laki-laki (1 Tim 2:12-14 – dalam kontek gereja). Ok, itulah yang Alkitab katakana, tapi orang Liberal akan bertanya,”Tapi apakah itu artinya?”  Maka yang harus mereka lakukan adalah menafsir ulang Kitab Suci dalam rangka mempertahankan posisi egalitarian mereka. Itulah masalahnya dan itu adalah pntu gerbang menuju Liberalisme. Seseorang yang mengabaikan dengan pengajaran Alkitab yang eksplisit maka biasanya akan mengikuti ajaran lain dan lalu mengkompromikannya. Begitulah cara kerjanya. Kalau begitu, seberapa banyak kita bisa memercayai penafsiran yang tepat terhadap Kitab Suci ketika dia mengabaikan pengajaran eksplisit Kitab Suci? Hal ini tidak mudah untuk dijawab. Sekali lagi, apa yang Kitab Suci ajarkan kepada kita?