syalom kak. aku seorang perempuan 20 th. aku ingin curhat sekaligus menanyakan pendapat kakak. sejujurnya ini adalah pertanyaan yg mungkin sering sekali dipertanyakan.

——cut——-

aku baru pertama kali pacaran tahun ini.

——cut——–

awalnya sih baik ya, tapi lama-lama mulai. dia awalnya megang tanganku ya aku seneng karena itu wajar kan. terus cium kening. lama-lama, cium pipi, dan akhirnya cium bibir. padahal sebelumnya, aku udh pernah buat janji gitu gamau ciuman sebelum nikah. tapi nyata.. belum sebulan pacaran, kami akhirnya ciuman… 

—–cut—–

dan sebenernya beberapa kali dia sempet nakal, megang dada aku dan nyium dada aku atau megang bokong. tapi dia mau dibilangin sih (cuma dibilanginnya harus lembut, gaboleh kasar kalau ga dia marah). aku bingung… aku merasa ga damai… aku juga udah bilang ke dia tapi tetep aja… aku merasa bersalah sama Tuhan, aku merasa bersalah sama mama yang pernah nanyain cowoku ini pernah macem2 ga sama aku, aku merasa bersalah.. tapi udah 3 bulan seperti ini terus dan dia bilang akan seperti ini (yaitu batasan pacarannya sampe ciuman bibir yg french kiss) sampai kami nikah nanti.

——cut——–

dia tau ciuman itu ga bener sebenernya sebelum waktunya. tapi ya gitu tetep dilakuin.

aku harus kayak gimana ya kak, aku sempet (kadang2) berpikir untuk putus sama dia krn aku jd ‘ga kudus’ tapi aku tau dia segitu seriusnya sama aku. karena dia selalu bawa aku dlm doa spy hubungannya sampe ke pernikahan, aku udh dikenalin ke keluarganya, keluarganya sangat setuju aku sama dia, dan dia jg udah deket bgt sama keluargaku, dia udh ngasihtau semua kejelekan, keuangan, dan plan2 dia. ya pokoknya aku melihat keseriusan dia segitunya. tapi aku bingung, gimana ya.. aku merasa ini terlampau batas…tapi aku gabisa berbuat apa2… 

aku jadi malu sama Tuhan… aku merasa bersalah sama mama… tapi, sebenernya boleh ga sih kak kayak gitu? apa aku harus putusin? atau gimana ya? tapi semua keluarga udah pada tau, udah pada setuju, dan dia udah sampai segitunya mempersiapkan utk pernikahan nanti (yg rencananya 2 th lagi). apa yang harus aku lakukan ya sebaiknya?  Gbu.

NN

Catatan: kami melakukan editing dan memotong sebagian kisah Anda untuk mempersingkatnya.

JAWAB:

[DSB]:

Dear NN,Pada era komunikasi ini adalah suatu hal yang benar-benar sulit bagi kita untuk hidup dalam kekudusan. Bagi banyak orang, lebih mudah untuk menyerah dan ikut arus ikut ke mana hasrat kita membawa diri kita. Sekalipun demikian, NN perlu tahu bahwa NN tidak sendirian menghadapi hal ini. Masih sangat banyak remaja dan pemuda Kristen yang juga berjuang untuk bisa “selamat” melalui pacaran hingga ke pernikahan. Sulit? memang benar, tetapi bersama Tuhan tidak ada yang mustahil. Dia yang akan menguatkan dan menolong kita sampai pada ke pelaminan dengan “selamat”.

NN, daging ini sangat lemah dan daya tarik seksual itu begitu kuat. Sekali kita merasakan kenikmatan dalam tingkatan demi tingkatan keintiman, akan lebih sulit lagi untuk mundur ke tingkatan sebelumnya. Kita akan naik terus ke sekwilda, petting dan tidak akan berhenti sampai ML dilakukan. Tentunya hal ini akan terjadi apabila NN dan pasangan menyerah kalah dalam pertempuran ini.

Kalau saya tidak salah mengerti, hubungan NN dengan kekasih juga masih baru, belum melewati 1 tahun, dan NN sendiri masih sangat muda (20 tahun). Kalau umur NN sudah di atas 25 dan pacarannya juga sudah 3 tahun, saya akan menyarankan NN untuk memikirkan pernikahan. Namun mengingat usia pacaran yang masih muda, maka NN maupun sang kekasih masih belum terlalu saling mengenal dengan baik. Ini artinya jika memang kedua belah pihak masih berencana untuk membangun keluarga bersama di masa mendatang, NN dan pasangan perlu mengenal lebih dalam lagi satu dengan yang lainnya. Pengenalan anatomi tubuh pasangan pada saat pernikahan nantinya tidak membutuhkan waktu yang lama. Hal yang membutuhkan waktu, yaitu yang justru perlu dipelajari, dikenal dan dimengerti pada masa pacaran adalah pemikiran, karakter dan kebiasaan masing-masing. Ketiga hal ini akan sulit untuk dilihat dan dimengerti apabila setiap kali bertemu yang ada adalah kontak fisik. Bukan hanya damai sejahtera yang terganggu, tetapi waktu yang berkualitas antara kedua insan untuk saling mengenal juga terganggu. Hal ini akan menyebabkan penilaian keduanya akan pasangan masing-masing menjadi bias. Faktor fisik misalnya kecantikan, sikap gentle, atau bahkan (maaf) kemampuan memuaskan hasrat dapat menutupi kelemahan-kelemahan yang dimiliki pasangan yang seharusnya muncul ke permukaan dan digumulkan bersama sebelum pernikahan. Hal-hal baik dari pasangan juga bisa tertutup karena NN merasa tidak damai setiap kali bertemu dengan dirinya.

Kalau begitu, bagaimana menghentikannya?

1. Harus ada kesepakatan bersama dengan pasangan, bahwa kalau memang mau menikah, pacaran yang kudus adalah suatu keharusan.

2. Dorongan seksual adalah dorongan alami yang sangat kuat, tidak dapat dilawan oleh hanya kekuatan akal sehat maupun kekuatan tekad saja. Ikuti teladan Yusuf yang lari dari istri Potifar saat digoda. Kita pun dapat menghindari keintiman sebelum waktunya dengan menghindari tempat-tempat di mana hal itu dapat dilakukan. Misalnya: Hindari datang ke rumah apabila hanya ada sendirian di rumah.

3. Batasi kencan eklusif berdua, dan perbanyak pergi bersama teman-teman (khususnya gereja/cell group) yang lain. Dengan demikian NN akan dapat melihat tingkah laku yang tidak dibuat-buat dari kekasih NN, sambil menetralisir hasrat yang menggebu-gebu setiap kali ketemuan.

4. Miliki teman akutabilitas. Teman akuntabilitas adalah teman dekat yang memiliki kerohanian yang baik, yang dapat dipercaya. NN harus menceritakan pergumulan NN ini kepadanya dan meminta bantuan dari teman NN ini untuk mengingatkan dan menjaga supaya NN tidak kebablasan dalam berpacaran dengan kekasih. Teman akuntabilitas haruslah sejenis kelamin dengan NN. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa teman akuntabilitas NN yang terbaik justru adalah Mama NN sendiri. Tentunya hal ini dapat terjadi apabila Mama NN cukup bijaksana dan dapat dipercaya oleh NN. Kalau Mama ada di rumah, beliau dapat diminta muncul sekali-kali ke ruang tamu pada waktu tidak terduga sehingga mencegah kontak fisik yang terlalu intim.

5. Teruslah berdoa.

Semoga cukup membantu, kami akan mendoakan Anda.