Thanks sophia buat artikel2nya, sangat memberkati, tapi saya ada ganjalan mengenai topik YHWH dan allah, kenapa tdk merujuk kpd Kitab Keluaran 23:13 dan sy pikir kalau kita memakai Kurios atau Adonai tidak masalah, tapi kalau allah Sophia kan tahu sendiri itu tuhannya agama dan bangsa apa.

THanks & GBU

Joe

JAWAB:

[CKM]:

Kita semua sadar bahwa nama ‘Allah’ digunakan juga oleh orang Kristen yang berbahasa Arab untuk menunjuk kepada TUHAN dalam Alkitab. Faktanya, secara akar nama itu diturunkan dari kata ‘ilah’ yang berakar pada bahasa semitik kuno, yang berhubungan dengan bahasa Mesopotamia ‘il’ yang sama dengan bahasa Ibrani-Aram yaitu ‘El’ seperti misalnya terdapat pada kata ‘Ishma-el; immnu-el’. Isitlah ini biasanya digunakan  untuk merujuk kepada dewa tertinggi yang disembah, secara khusus menunjuk pada dewa tertinggi dari antara dewa-dewa yang lebih rendah. Begitu juga Alkitab menggunakan istilah ‘Allah’ merupakan hanya salah satu dari sekian banyak nama jabatan untuk YHVH, satu-satunya TUHAN yang benar.

Namun masalah memang muncul karena ada yang bersikukuh bahwa nama ‘allah’ bukan nama jabatan namun nama personal. Hal ini memang menjadi problematic oleh karena menurut Alkitab nama ‘Allah’ Abrahan adalah YHWH, bukan ‘Allah’.

Dalam Kel 6:2-3, TUHAN berkata kepada Musa bahwa “Akulah TUHAN (YHVH). Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku   TUHAN (YHVH)   Aku belum menyatakan diri .”

Oleh karena itu, orang Kristen bisa menggunakan ‘Allah’ sebagai jabatan tetapi bukan nama personal dari Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.

[DSB]:

Penjelasan pada “Apakah Nama Allah Tidak Boleh Disebutkan?” menurut kami sebenarnya sudah cukup jelas, namun kami coba tambahkan keterangan berikut ini, semoga memberikan pencerahan bagi saudara-saudari di dalam Kristus yang bingung dalam masalah ini.

Berikut ini kami kutip pembahasan Ir. Herlianto, MTh. dari Yayasan Bina Awam pada artikel mimbar-maya 12 Juli 2009:

la  ilaha  illa  Allah

Membaca atau mendengar judul diatas, tentulah kita segera akan mengatakan bahwa itu adalah bagian pertama dari Syahadat (Credo/Pengakuan Iman) agama Islam seperti tertulis dalam QS. 47:19.

Benar! Tetapi perlu diketahui bahwa kalimat itu sudah diucapkan oleh umat Kristen Arab jauh sebelum kehadiran agama Islam dengan Al-Qurannya yang lahir pada abad VII! (yang kemudian ditulis dalam Alkitab dalam bahasa Arab), yaitu  ketika mereka membaca surat rasul Paulus  yang pertama kepada jemaat di Korintus yang aslinya dalam bahasa Yunani berbunyi: “oudeis theos eimee heis” dan diucapkan oleh umat Kristen Arab seperti judul diatas, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa’ (1Kor. 8:4).

Berbeda dengan anggapan orang bahwa Allah itu nama Tuhannya Islam, nama dewa masa Jahiliah, atau nama dewa bulan Babilonia,  penggunaan nama Allah di kalangan Yahudi keturunan Abraham dan umat Kristen sejak pertobatan orang Arab Kristen awal (Kis. 2:11) sudah ada sejak awal berkembangnya dialek Arab lisan kemudian tulisan dan ditujukan kepada El/Elohim/Eloah Ibrani.

Seperti diketahui dari sejarah, bangsa Arab diturunkan rumpun Semitik melalui nenek-moyang Yoktan (anak Eber keturunan Aram, Kej. 10:22-29), Ismail (anak Abraham-Hagar, Kej. 25:13-16), dan Keturah (isteri Abraham, Kej. 25:1-4). Juga dalam sejarah diketahui bahwa nenek-moyang orang Arab yang dikenal sebagai Hanif (jmk. hunafa) terutama suku-suku Ibrahimiyah dan Ismaelliyah tetap melestarikan ibadat kepada Allah Ibrahim (El Abraham, ingat ‘Idul Adha’).

Data arkeologi menemukan inskripsi sekitar masa Ezra (abad VI SM) dikalangan suku Lihyan yang bertuliskan nama ‘Allah.’ Suku Lihyan adalah keturunan suku Dedan keturunan Dedan cucu Ketura isteri Abraham. Pada masa itu Kitab Ezra dan Daniel (PL) juga sebagian ditulis dalam bahasa Aram dan menulis El/Elohim/Eloah dengan Elah/Alaha (Elah Yisrael, Ezr. 5:1;6:14), dan nama Allah Lihyan berasal dari nama Aram Alaha (dialek/bahasa Arab berkembang dari Nabatea Aram). Pada masa percakapan lisan sebelum berkembang bahasa tulisan, orang tidak mempersoalkan apakah menggunakan huruf  ‘l’ tunggal atau jamak atau membedakan ejaan ‘e’ atau ‘a.’

Alkitab mencatat orang Arab yang masuk Kristen sudah ada sejak hari Pentakosta (Kis. 2:11). Sejak itu nama Allah sudah digunakan umat Kristen Arab, bahkan dalam Konsili Efesus (431 M) ada uskup Arab Harits bernama ‘Abdullah’ (Abdi Allah). Di kalangan Kristen ditemukan inskripsi Zabad (512 M) yang diawali kalimat ‘Bism al-Ilah’ (bandingkan dengan ‘Bismillah ‘ di Al-Quran dengan ‘Beshem Elohim ‘ (Mzm. 20:6) dan ‘Beshum Elah ‘ (bahasa Aram, Ezr. 5:1) dalam Tanakh, dan inskripsi Umm  al-Jimmal (abad VI M) diawali ucapan ‘Allahu Gafran’ (Allah mengampuni).

Ibadat kepada ‘Allah’ bukan milik agama Islam, bahkan Muhammad yang oleh pengikutnya diterima sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul Allah’ berkata bahwa dalam sinagoga Yahudi, gereja Nasrani dan di Mesjid pada masa hidupnya sudah disebut ‘Tuhan kami Allah’ (QS. 22:40), maka logisnya nama itu sudah digunakan kedua agama pendahulu Islam itu sebelum ditulis dalam Al-Quran.

Sesudah kehadiran Islam di abad VII M, Palestina dikuasai kerajaan Islam berbahasa Arab (Arab, Mesir, Turki) dimana bahasa Aram sebagai bahasa percakapan sehari-hari orang Yahudi Palestina digantikan dengan bahasa Arab (Bahasa Ibrani hanya digunakan dalam salin-menyalin Tanakh). Baik orang Yahudi berbahasa Arab yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam,  dalam ibadat mereka semua menyebut ‘nama Allah’. Penjajahan berlangsung selama 13 abad (VII-XX M) sampai Israel berada dibawah  kekuasaan Inggeris dengan mandat Liga Bangsa-Bangsa di tahun 1917. Sejak bangkitnya Zionisme pada akhir abad XIX, bahasa Ibrani modern dihidupkan kembali sebagai bahasa tulisan dan percakapan dikalangan orang Yahudi, sekalipun begitu pengaruh budaya Arab selama 13 abad tidak hilang dan orang Yahudi sekarang masih banyak yang berbahasa Arab juga.

Dalam Al-Quran yang diterjemahkan ke bahasa Ibrani, nama ‘Allah’ diterjemahkan ‘Elohim’ (Al-Qur’an Tirgem Avrit). Sebaliknya Tanakh  Ibrani, dalam Alkitab bahasa Arab, ‘El/ Elohim/Eloah Tanakh dan Theos diterjemahkan ‘Allah’ (saat ini ada 4 versi Alkitab berbahasa Arab dan semuanya menyebut ‘nama Allah’).

(akhir kutipan)