Syalom Kak ..
Saya masih pelajar SMA kelas 3, begini kak, saya mau tanya apakah di usia segini sebenarnya sudah boleh tidak pacaran? Dalam hati sih ingin punya pacar kak, niatnya sih pengen punya pacar sejak sekolah dan hubunganya bertahan lama supaya bisa saling mengenal lama dan maunya sih cowok yang baik, seiman terus bebas dari rokok atau alkohol gitu, terus tulus sayang sama aku. Tapi di jaman kayak gini susah kak mo nyari cowo yg kayak gitu, maksud pengen nyari cowok kayak gitu karena aku ingin pacaran kudus menjaga kekudusan diri gitu deh, karena rata-rata teman aku sudah pernah kissing atau sejenisnya sama pacarnya. Tapi orang tua juga belum ngasih ijin, tapi aku sudah pengen punya pacar😀 harus gimana ya kak? Satu sisi pengen punya cowok tapi takut bohong sma orang tua .. apa kejar cita-cita dulu kali ya kak? Tapi aku juga pengen pacaran lama kak ..
Mungkin pertanyaan nggak penting .. tapi tolong dijawab ya kak, makasih. GBu.

qt

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear qt,

Sungguh pertanyaan yang bagus sekali! Kami sangat senang bahwa Qt sudah mempunyai sikap yang  kritis dan punya passion untuk hidup menurut kehendak Tuhan bahkan semenjak di bangku SMA. Kekudusan itu langka dan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan sejak awal membina hubungan.

Dear Qt, pacaran memang menyenangkan, khususnya bagi darah muda di SMA yang baru saja mengenal adanya mahluk lain yang berbeda dengan kita yang mengagumkan. Bagi pria adanya mahluk indah, cantik dan menyenangkan. Bagi wanita adanya sosok pintar, humoris, gentle dan protektif serta tak lupa cool. Membuka diri untuk pacaran harus pas waktunya, kalau terlalu tua (apalagi bagi wanita) akan menyulitkan dalam mencari pasangan. Tetapi sebaliknya kalau terlalu muda juga kurang baik. Ada beberapa sebab kenapa pacaran terlalu muda kurang baik bagi kita:

  1. Mengganggu sekolah/kuliah. Alasan paling utama adalah karena pacaran dapat mengganggu sekolah. Pada masa sekolah, tugas utama kita sebagai pelajar Kristen adalah belajar sungguh-sungguh, sehingga nilai kita dapat menjadi garam dan terang bagi keluarga dan teman-teman di sekolah. Terlebih lagi usia SMA pada umumnya kita masih labil dan terbawa emosi. Nah seringkali dalam pacaran ada sukacita, namun juga ada kekesalan/amarah sehingga emosi kita yang naik turun ini dapat mempengaruhi konsentrasi belajar. Selain itu, tekanan group atau “genk” pun sangat kental. Sulit sekali bagi remaja SMA untuk bisa melawan arus, karena harus siap dikatakan freak atau nerd (kalau jaman dulu disebut kuper). Bagi mahasiswa, biasanya emosi sudah lebih terkontrol, sudah lebih kuat untuk berdiri pada pendapat sendiri, dan waktu kuliah yang fleksibel memaksa kita untuk dapat mengatur waktu dengan lebih baik.
  2. Belum memiliki penghasilan. Alasan kedua ini lebih khusus bagi para pria. Untuk para pria, Anda adalah orang yang mempunyai tanggung jawab utama dalam memenuhi kebutuhan keluarga Anda di kemudian hari. Karena itu dalam berkencan, paling baik apabila sang pria yang membayarkan sang wanita. Untuk para wanita, jika Anda mengencani pria yang tidak bisa membayar biaya kencan Anda berdua, maka lampu kuning bagi Anda. Anda harus memikirkan bagaimana kelak bila menikah, siapa yang membiayai keluarga Anda berdua? Terlebih jika Anda wanita yang harus membayarkan full setiap kencan, pria yang Anda kencani sebaiknya segera mencari pekerjaan supaya belajar untuk bertanggung jawab dan mengatur keuangan. Maka dari itu, pria-pria yang belum punya penghasilan disarankan mencari pekerjaan dulu untuk membiayai kencannya. Kalau masih kuliah, setidaknya bisa mulai mencari kerja part time, atau setidaknya penghasilan tambahan dari jualan sesuatu atau pekerjaan temporal seperti menjadi crew Event Organizer, atau yang lainnya.
  3. Membatasi Pergaulan. Pada masa SMA, kita baru saja mulai memahami diri kita, dan mengenal lawan jenis kita. Namun begitu kita “jadian”, bahkan sekalipun hubungan cintanya masih cinta monyet yang belum serius ke pernikahan, maka hubungan akan menjadi lebih ekslusif. Kita akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan sang kekasih daripada dengan teman-teman lainnya. Padahal pada usia tersebut, kita masih perlu teman-teman sebaya yang sejenis maupun yang lawan jenis. Merekalah yang membantu kita mengenal diri kita (termasuk panggilan kita) dan membantu kita belajar menjalani kehidupan. Tak jarang mereka juga yang membantu karir kita di kemudian hari. Selain itu, terlalu cepat pacaran akan mengurangi keterbukaan Anda untuk mengenal dan dikenal oleh lawan jenis. Hal ini akan sangat merugikan, seakan-akan pria yang kita kenal menjadi hanya kakak/adik/ayah dan si pria. Kita jadi tidak mengenal berbagai macam sifat pria-pria yang lain, yang pastinya banyak yang lebih baik maupun lebih buruk daripada sang pacar dan keluarga kita.
  4. Membatasi Pengembangan diri. Pada masa remaja, kita baru mulai menjajal kemampuan diri kita. Kita sedang gencar-gencarnya mencoba segala sesuatu dan menekuni talenta dan bakat kita. Remaja memerlukan aktualisasi diri, meraih prestasi baik akademis maupun dalam bidang lainnya. Tuhan pun ingin kita menemukan talenta unik yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita. Talenta itu perlu ditemukan dan dikembangkan dengan cara mencoba berbagai hal, mencoba menekuni minat kita, juga melalui persahabatan. Semua itu membutuhkan waktu. Pacaran dapat menyedot semua waktu dan perhatian yang kita butuhkan untuk mengembangkan diri.

Kalau begitu kapan sebaiknya kita mulai membuka diri untuk berpacaran? Patokan yang cukup baik adalah dengan rumus M-3. M adalah usia ideal menurut Anda untuk menikah. Usia ideal yang dimaksud adalah usia minimal Anda sudah siap menikah. Misalnya, pada waktu dulu, saya berpikir bahwa idealnya saya sebagai pria menikah di usia antara 25-30 tahun. Kalau sebelum itu saya pikir belum memiliki tabungan yang cukup dan pekerjaan yang mapan. Kalau setelah itu saya berpikir usia dengan anak akan terlalu jauh. Nah, berarti saya sudah dapat memulai membuka diri pada usia M-3 yaitu 25-3 =22 tahun, atau pada tahun saya lulus kuliah.  Angka 3 tahun adalah waktu ideal untuk membina hubungan pacaran dari mulai pacaran sampai pernikahan. Di mana dalam 3 tahun kita sudah cukup mengenal calon suami/istri kita, namun tidak terlalu lama pacaran.

Kami pikir sudah cukup jelas pembahasan mengenai usia pacaran dan berapa lama pacaran di atas. Terlebih lagi orang tua belum mengijinkan, bersyukurlah Tuhan memberikan orang tua yang peduli pada masa depan qt.

GBU qt.