Shalom

Sebelumnya terima kasih banyak atas informasi dan pencerahan di dalam blog ini, mungkin yang bertolak belakang dengan keyakinan si pembaca akan bingung seperti saya sendiri namun setelah direnungkan, ternyata ada benarnya juga apalagi semua referensi dari Firman Tuhan di Alkitab.

Saya adalah umat Katolik yang di mana saya merasa memiliki iman yang redup, tapi sejak diajak teman saya ikut acara doa pagi, iman saya seperti menyala-nyala dan mengebu-gebu, dari situ saya bisa dikatakan ‘berbahasa roh’ karena sering bahas soal ‘baptisan selam’ jadi ingin dibaptis lagi karena dipermasalahkan soal baptisan percik meski saya sudah dipermandikan atau dibaptis di gereja saya sekarang.

Dengan semakin dekat hubungan dengan teman saya dan saling berbagi dalam membahas dan belajar rohani, Puji Tuhan dari yang kebiasaan merokok mulai bisa saya hentikan, serta kebiasaan buruk saya baik hal kecil sekalipun bisa saya hentikan, mulai sering doa sebelum melakukan aktifitas, kembali rajin ke gereja, dll yang membuat ingin dekat dengan Tuhan dan benar-benar ingin tobat sampai ingin rasanya di baptis kembali dgn baptis selam..

Tapi setelah membaca sebagian artikel di sini saya menjadi bingung menghadapi temanku ini, apa saya ikuti seperti biasa walau kurang tepat seperti penjelasan diblog ini, baik soal bahasa roh, suara Tuhan, baptisan selam? Ingin menghindar tidak enak hati rasanya, secara tidak sengaja temanku sudah mengajakku (di pakai Tuhan) untuk Tobat walau meski sebagian aktifitas rohani kurang tepat seperti penjelasan di blog ini.

Terlebih bahwa teman saya menyatakan kalau ikut adat istiadat (adat Batak) itu sama saja menduakan Tuhan, apakah benar ya? Adat dan agama itu bertentangan? Bagaimana kita bisa hidup tanpa adat istiadat, terlebih berhubungan dengan keluarga besar, khususnya saya pribadi satu-satunya laki-laki yg diwajibkan melanjutkan keturunan keluarga dan adat istiadat?

Mohon pencerahannya dan terima kasih banyak bersedia membaca dan bersedia merespon komentar saya ini.

GBU

NN

JAWAB:

[CKM]:

Setiap tempat pastilah mempunyai budaya dan budaya masing-masing tempat atau daerah pastilah berbeda. Sebagai contoh, di Jepang ada budaya minum teh tetapi di Indonesia kita menganggap biasa bahkan suatu benda bisa bernilai sangat mahal karena didalamnya ditambahkan makna tertentu. Manusia mencoba merelasikan antara hal yang duniawi dengan hal spiritual akibatnya hal yang sepele yang tidak bermakna bisa menjadi bermasalah besar. Alkitab mencatat beberapa orang Farisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem hanya untuk menegur Tuhan Yesus tentang hal membasuh tangan yang tidak dilakukan oleh para murid sebelum makan, mereka dianggap telah melanggar adat istiadat. Bagi orang Yahudi, membasuh tangan itu menyatakan suatu penghormatan kepada Allah sebelum kita menikmati makanan. Budaya cuci tangan merupakan sesuatu yang sifatnya fisik tetapi telah diberi makna dan direlasikan dengan dunia metafisika, dihubungkan dengan Allah. Atas kejadian ini, Tuhan Yesus balik menegur mereka yang telah melanggar perintah Allah yang berbunyi: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu” karena dengan alasan persembahan pada Allah, orang mengabaikan orang tuanya. Tuhan Yesus menegur sangat keras akan hal ini karena dalam hal ini, perintah Allah telah dikalahkan oleh adat istiadat. Timbul perdebatan yang sangat rumit bahkan timbul perpecahan dalam perpecahan dalam Kekristenan, yakni manakah yang lebih penting adat istiadat ataukah firman Tuhan.

Di dalam Alkitab (I Korintus 9:19;23) kita tahu bahwa kebenaran dinyatakan setahap demi setahap. Satu langkah demi satu langkah. Bagi orang yang belum diselamatkan, hal terutama dalam hidup ini adalah diselamatkan. Hal yang terutama yang perlu direnungkan dan dihayati, sesuatu yang sungguh harus diperoleh adalah keselamatan jiwa. Jika anda sudah diselamatkan, puji Tuhan! Langkah pertama sudah kita lewati! Jika belum, maka anda dalam bahaya besar. Dan jika anda sudah diselamatkan, maka langkah berikut kita adalah bagaimana kita membangun hidup ini supaya sepadanan dengan Injil Yesus Kristus. Jangan dibalik menjadi Injil dipadankan dengan hidup kita. Bukan Injil yang diubah, tetapi hidup kita yang harus diubah. Dalam rangka inilah kita sebagai manusia, sebagaimana manusia sudah tersebar di seluruh dunia dan di seluruh bangsa sudah terbangun beraneka ragam adat istiadat, muncul banyak pertanyaan sejauh mana orang Kristen harus mengikuti adat-istiadat yang tidak melanggar kebenaran firman Tuhan. Banyak adat istiadat dari suku-suku bangsa yang kita tidak ketahui jika kita tidak berada di dalamnya.

Bacalah Gal 1:14. Apakah Paulus kemudian meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya? jawsabannya ada dalam Kisah Rasul 28:17. Setelah membaca mungkin akan merasa jawaban Paulus berkontradiksi dengan jawaban Yesus kepada orang Farisi dalam Matius 15:3. Yesus dengan sangat tegas mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara adat istiadat nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. Jelas hal ini tidak boleh terjadi di dalam kekristenan, kita tidak boleh melanggar ketetapan firmanNya karena lebih mementingkan adat istiadat.

Adat-istiadat itu merupakan “hukum kekerabatan” masyarakat tertentu dalam hubungan horizontal mereka. Tidak semua adat-istiadat menyebabkan manusia berdosa. Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat. Yesus dalam hal-hal tertentu Ia juga memahami adat/ budaya, salah satu contoh: Dia datang ke “pesta adat” yaitu perkawinan di Kana, dan bahkan Dia membantu menyediakan Anggur untuk pesta sebagaimana adat-istiadat setempat.

Tidak ada masalah dengan adat-istiadat, kebiasaan budaya setempat, dll… selama hal itu bersifat alami dan tidak melawan perintah Allah. Alkitab memberikan pengajaran dalam Matius 15:3, dimana Tuhan Yesus memberi jawab kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat,”Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Tuhan Yesus mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara adat istiadat nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. Jelas hal ini tidak boleh terjadi di dalam kekristenan, kita tidak boleh melanggar ketetapan firmanNya karena lebih mementingkan adat-istiadat.

Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengungkapkan lima pendekatan antara kebudayaan dan Kristus namun perhatikan, kelima pendekatan ini tidak dapat dikatakan benar secara keseluruhan, yakni:

1. Christ against culture

Kristus menghancurkan seluruh kebudayaan yang ada di dunia karena semua kebudayaan dipandang salah dan jahat.

2. Christ of Culture

Budaya harus diisi dengan hal-hal yang berbau Kekristenan dengan demikian kebudayaan itu menjadi milik Kristus sekarang.

3. Christ above Culture

Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu kultur tertentu yang mengatasi semua kultur.

4. Christ and Culture in Paradox

Budaya hidup berada dalam dua dunia – Kristus punya kultur tersendiri dan dunia juga punya kultur tersendiri, kedua kultur ini berjalan secara bersamaan dimana keduanya tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan.

5. Christ Transform Culture

Kristus mentransform kultur artinya bahwa kultur itu tidak salah cuma kultur itu perlu ditransformasi.

Dari kelima konsep yang diungkapkan oleh Niebuhr maka konsep kelima ini yang paling banyak diingat oleh orang. Pertanyaannya benarkah kultur bisa dirubah? Atau lebih tepatnya, Christ redeem the culture – Kristus menebus budaya berarti ada nilai yang harus dibayar. Hal ini yang lebih tepat dalam mandat budaya. Teologi Reformed umumnya, secara posisi mengikut konsep ini, yakni Christ transforming culture, Kristus mengisi kembali budaya yang sudah ada untuk dikembalikan pada apa yang seharusnya.

Budaya harus balik pada Allah. Beberapa ahli budaya dan para teolog melihat kelemahan konsep Niebuhr yang melihat Kristus dan budaya secara dualisme. Yang menjadi titik permasalahan adalah agama, iman atau filsafat yang membentuk budaya ataukah sebaliknya, budaya yang membentuk agama? Apakah agama itu menjadi bagian dari sebuah budaya? Merupakan suatu kesalahan fatal, hari ini orang mengajarkan bahwa agama membentuk suatu pemikiran filsafat dan pemikiran filsafat membentuk budaya dan budaya membentuk semua implikasi budaya, seperti bahasa, agama, bangunan, cara berpakaian dan semua tatanan keadilan dan hukum, dan lain-lain. Alkitab menegaskan iman adalah mutlak, titik tertinggi; iman membentuk pola berpikir atau filosofi agama dan dari filosofi agaman ini barulah membentuk budaya dan budaya  membentuk perilaku. Kalau iman kita tidak beres maka budaya pastilah akan liar. Maka dapatlah disimpulkan, iman menentukan budaya; budaya dan Kristus bukanlah dualisme. Pertanyaannya adalah seberapa jauhkah kita mengutamakan Kristus? Ketika kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita maka pada saat itu budaya akan terbentuk secara sendirinya dimanapun kita berada. Budaya adalah produk iman, puncak dari iman kepercayaan kita dan terkadang, budaya ini menjadikan kita berbeda dengan budaya yang ada di sekeliling kita. Hal ini akan mempengaruhi hubungan relasi kita, etos kerja, etika hidup, hubungan suami-istri, dan lain-lain. Orang yang beriman humanis maka seluruh perilakunya akan menjadi humanis. Janganlah kita terjebak dengan konsep yang dipaparkan oleh Niebuhr bahkan beberapa tokoh reformed seperti Abraham Kuyper dan Dooyewerd terpengaruh konsep Niebuhr, yakni konsep Christ transforming culture.

Perdebatan antara budaya dan Kristus seringkali terjadi sampai hari ini namun ingat, jangan perdebatkan Kristus dengan budaya sebab Kristus adalah Allah sejati, Ia tidak sebanding kalau diperdebatkan dengan budaya yang sifatnya tatanan praktis. Percaya kepada Kristus merupakan pusat iman sedang budaya hanyalah implikasi iman maka sangatlah tidak pas kalau kita menaruh budaya di posisi atas sebab budaya tidak punya dasar yang kuat. Celakanya pendidikan hari ini didasarkan pada humanitas atau evolusi dimana Allah tidak ada didalamnya akibatnya cara pandang kita akan sangat duniawi dan humanis. Hendaklah kita kembali pada natur dan atribut Kristus, yakni adil, suci, benar, mulia, manis dan sedap didengar maka budaya akan terintegrasi dengan baik dan menghasilkan budaya yang agung. Hal inilah yang disebut sebagai mandat budaya. Mandat budaya bukanlah percampuran atau sinkretisme antara Kristus dan budaya. Mandat budaya adalah setiap budaya yang harus disorot dari iman Kristen menjadikan apa yang benar dan salah menjadi terbuka di hadapan Kristus. Dunia semakin hari semakin menuju kehancuran, dunia tidak menjadi semakin baik, moralitas menjadi rusak, budaya semakin hancur – kita harus semakin kokoh dalam iman dan kebenaran, berdiri teguh di atas Firman dan tugas setiap anak Tuhan menjadi terang dan garam di tengah dunia dan berani dengan tegas menyatakan kebenaran dan menegur budaya yang salah.