Halo semua..🙂
saya mau share dan butuh bantuan respon dari teman-teman sekalian.

Saya sudah punya pacar, kami berpacaran baru 9 bulan lamanya.. Namun kami sudah sepakat untuk serius. Orang tua kami sudah saling kenal, orang tua saya juga sudah menganggap pacar saya sebagai anak mereka juga. Dia adalah pacar pertama saya, dan saya menganggap bahwa dia adalah jawaban dari doa saya kepada Tuhan. Karena saya punya komitmen bahwa saya tidak akan berpacaran untuk kesekian kalinya. Begitu pun dengan dia.

Namun, sekarang ada yang mengganggu hati dan pikiran saya. Agama kami berbeda. Dia kristen pantekosta , orang tua nya pendeta, dan keluarga besarnya semua pendeta.
Sementara saya , saya adalah Katekumenat yang tahun depan akan menerima sakramen baptis. Dari dulu saya selalu ke gereja katholik , saya menerima, kedamaian dan ketenangan hati di gereja katholik, namun saya baru yakin dan berani untuk jadi katekumenat di umur saya yang 20 tahun ini.

Kami ingin membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Kami saling menyayangi dan saling menghargai. Setiap di minggu kami ke gereja bersama (ke gereja katholik) , saya tidak pernah menawarkan , dia yang menginginkan nya.

Dan sampai saat ini saya tidak punya keinginan untuk ke gereja nya. Orang tua nya sudah pernah bertanya kepadanya tentang “Apakah saya mau menjadi seorang kristen?”, pacar saya tidak bisa memaksa saya namun dia juga tidak bisa pindah menjadi orang katholik , karena dia tidak bisa melawan arahan kedua orang tuanya. NAMUN, kami sangat ingin menjadi pasangan suami istri kelak

Saya butuh masukan dari teman-teman, bisakah kami menikah dengan agama kami masing-masing, Saya menjadi orang Katholik dan dia tetap menjadi kristen?

trims.
Susi (bukan nama sebenarnya)

 

JAWAB:

[DSB]:

Dear Susi,

mengenai pasangan yang satu Kristen dan yang satu lagi Katolik kami sudah membahasnya pada posting ini Bagaimana dengan Pasangan Kristen dan Katolik. Pada posting tersebut sudah jelas posisi kami, silakan dibaca dan direnungkan untuk dapat memahaminya. Tentunya kami tidak bisa memberikan masukan di luar kebenaran Firman Tuhan, sehingga, apabila Susi tetap ingin untuk bisa bersatu dengan kekasih Susi, pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada masing-masing baik Susi maupun sang kekasih adalah, apakah keduanya sudah sungguh-sungguh memahami ajaran masing-masing dengan baik dan bukan hanya memahami, apakah sudah mengalami menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari?
Sebab kalau memang keduanya sungguh-sungguh menjalankan ajaran agama masing-masing, akan terjadi pergumulan batin yang sangat besar akan praktek dari ajaran agama pasangannya itu. Mungkin Susi dan pasangan berpikir bahwa yang penting adalah toleransi. Namun yang Anda toleransikan kali ini bukan orang lain, melainkan pasangan hidup kita sendiri. Pasangan yang seharusnya saling menopang, bersatu, sehati dan saling mendukung. Perbedaan iman dan pedoman hidup bukan merupakan perbedaan kecil karena menyangkut keseluruhan hidup kita, Dasar hidup yang berbeda akan membuat perbedaan terus-menerus dan kesulitan untuk mengerti akan keputusan-keputusan yang harus diambil.

Sebaliknya kalau Anda berdua tidak sungguh-sungguh kelihatannya memang bisa dengan cara ngeflow begitu saja, jadi tidak perlu terlalu sungguh-sungguh menjadi orang Kristen, toh “semua agama baik” dan Anda berdua bisa menikah, hidup bahagia happily ever after. Namun bahayanya adalah di pengadilan terakhir kelak, Anda dan pasangan harus mempertanggungjawabkan hidup yang sudah Tuhan berikan kepada Tuhan. Dan orang yang tidak sungguh-sungguh hanya beriman kepada Yesus akan menanggung hukuman yang kekal.

Tuhan berfirman dalam Wahyu 3:15-16:”Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Ayat ini teguran yang sangat keras bagi orang yang mengaku Kristen (mau protestan, pentakosta, maupun katolik) tetapi tidak sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus.

Sebelumnya kami mohon maaf apabila perkataan kami berikutnya cukup keras bagi Anda.

Kalau Anda mengakui bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam jalan Kristus, maka tidak bisa tidak, tradisi gereja tidak boleh melebihi kebenaran Firman Tuhan. Itu berarti Anda harus membuang ajaran-ajaran api purgatory, doa kepada santo dan santa, pengagungan yang berlebihan kepada Santa Maria, kepada Paus dan struktur kepemimpinan gereja katolik Roma. Sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Martin Luther hampir 500 tahun yang lalu. Keselamatan, menurut Alkitab hanya oleh anugerah, dengan iman, tidak bisa ditambah-tambahkan dengan perbuatan baik atau dengan kerajinan mengikuti misa kudus, atau doa apa pun juga.
Memang sulit sekali tatkala seseorang yang telah seumur hidupnya mempelajari iman katolik untuk percaya akan kebenaran yang sejati yang telah diperjuangkan oleh Reformasi Gereja. Namun kalau kita serius mempelajari Firman Tuhan, mencoba untuk keluar dari ajaran-ajaran yang telah kita terima, dan membaca Alkitab secara langsung, kami yakin Roh Kudus dapat menolong Anda untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya itu.
Anda dan kekasih Anda memang punya hak untuk memilih sendiri apa yang akan diputuskan, dan sepertinya tidak tepat kalau pada saat membingungkan seperti ini kami malah mencoba “berkotbah” mengenai Firman Tuhan. Tapi pikirkanlah ini… jangan-jangan, ini adalah cara yang Tuhan gunakan untuk memanggil Susi dan sang kekasih untuk datang kepada-Nya dan hidup sungguh-sungguh menjadi seorang Kristen sejati. Justru Tuhan ingin melalui kejadian ini, Susi memperoleh hidup yang kekal dalam kebenaran iman yang sejati.

Dalam pelayanan kami, kami sudah menemukan beberapa pasangan Kristen – Katolik yang dalam pergumulannya untuk menikah, justru menemukan kebenaran, iman, dan hidup kekal yang sejati di dalam Kristus. Banyak yang mendapatkannya waktu sungguh-sungguh mencermati ajaran mana yang memang bersumber dari Alkitab mana yang bukan. Salah satunya yaitu kedua sahabat kami, akhirnya keduanya menjadi Kristen (Protestan) sejati dan menjalani hidup mereka dalam iman yang teguh kepada Kristus. Mereka sudah menikah 10 tahun yang lalu dan rumah tangga mereka harmonis, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang lain. Mereka juga sudah punya jaminan hidup yang kekal bersama Kristus. Kami mendoakan agar Susi dan pasangan boleh mengalami yang serupa.

Tuhan memberkati

[DSB]