Perintah Tuhan dalam  (Matius 28 : 19) Karena itu pergilah, Jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus.

Yang menjadi pertanyaan dan selama ini saya masih bertanya dalam hati Bagaimana kita menghubungkan perintah Tuhan ini dengan semboyan Negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Yang di mana Negara kita terdiri dari berbagai ajaran agama, dan di mana manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih & memeluk suatu agama tersebut. Saya masih bingung, bagaimana cara kita sebagai orang percaya (Kristen) melakukan perintah Tuhan ini dan menjelaskan kepada Mereka yang belum percaya Tuhan Yesus?

Misalnya, saya pernah membaca satu peryataan yg pernah saya baca di facebook ttg hal ini :

Xxx : Ya, Buat apa c sibuk ajak orang ke agamanya, ga tahu apa Negara kita Bhineka Tunggal Ika? Mending saling bertekun ajaran agama masing2 dan menerapkannya dlm kehidupan sehari2.

Jadi Bagaimana sikap kita sebagai orang percaya dalam menganggapi hal ini?

Daniel

JAWAB:
[DSB]:

Perintah Allah harus selalu berada pada tempat pertama. Maka dari itu, bahkan jika negara kita tercinta ini mempunyai undang-undang yang melarang seseorang mengabarkan Injil, sebagai orang Kristen kita tetap wajib melaksanakan mandat Injil.

Namun kita perlu bijaksana dalam mengabarkan Injil. Berikut ini dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan mandat Injil:

1. Bersahabat dengan semua orang. Jadilah teman dengan tulus, bukan semata-mata karena ingin mengabarkan Injil, tetapi karena Tuhan ingin kita menjadi domba di tengah serigala, garam dan terang dalam dunia, menjadi sumber pengharapan bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Perhatikan orang-orang yang dekat dengan kita dan hadirlah pada saat-saat mereka mengalami dukacita maupun sukacita. Perhatian yang tulus adalah kehendak Tuhan agar orang-orang yang tidak percaya boleh merasakan kasih Tuhan dalam hidup mereka.

2. Temukan kesempatan untuk mengabarkan Injil, dan gunakan dengan sebaik mungkin apabila kesempatan itu datang. Kesempatan seperti ini datang dengan tidak disangka-sangka. Kuncinya untuk hal ini adalah: be availabe! Kalau kita terlalu sibuk untuk mendengarkan orang lain atau menolong orang lain, kita tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengabarkan Injil. Terkadang dalam percakapan kita dengan orang lain, atau bersama-sama dengan teman-teman, kita mengarah kepada percakapan tentang agama, neraka, setan, Tuhan, atau lainnya. Gunakanlah kesempatan itu untuk menyatakan Injil yang benar dan menyelamatkan itu.

3. Jadilah yang terbaik dalam segala hal yang kita kerjakan. Dalam pekerjaan, dalam studi, dalam pelayanan maupun dalam membantu orang tua, selalu lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan. Pada waktu kita menjadi yang terbaik, mata semua orang akan tertuju pada kita, pada saat itulah kita memperoleh kesempatan untuk didengarkan oleh orang lain, dan dengan demikian kesempatan untuk menceritakan Injil semakin terbuka lebar.

4. Berlatih dan berdoa. Menunggu kesempatan datang seringkali membuat kita tumpul. Kita tidak menyadari waktu kesempatan datang menghampiri kita untuk mengabarkan Injil. Karena itu berlatihlah metode-metode pengabaran Injil setiap beberapa waktu (tergantung kebutuhan, bisa setiap beberapa bulan atau tahun). Berdoalah senantiasa untuk orang-orang di sekitar kita yang belum percaya. Berdoa agar Tuhan membuka jalan bagi kita untuk memberitakan kabar baik.

5. Jangan jadi Salesman! Kita mengabarkan Injil dengan hikmat dan bijaksana, bukan karena kita takut pada pemerintah atau cacian orang lain, tetapi karena kita ingin Injil diterima. Kita ingin orang yang kita Injili menerima Kristus, bukannya malahan antipati pada orang Kristen.

Suatu ketika, saya pernah ditelepon secara tiba-tiba oleh seorang teman yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Dia mengatakan ingin ngobrol-ngobrol dengan saya. Pada waktu kami masih bertemu di bangku kuliah pun sebenarnya kami tidak terlalu saling mengenal, masing-masing mempunya “geng” yang berbeda. Tapi karena teman saya meminta, saya ikuti juga kemauannya untuk ngobrol di telepon. Tak lama kemudian, setelah pembicaraan nostalgia tentang teman-teman kami masa lalu, dia mengutarakan maksud hatinya menelepon saya. Ternyata dia sekarang mengikuti suatu MLM dan mengajak saya ikut serta menjadi downline-nya. Bukan hanya pertama kali saya menerima telepon atau ajakan seperti ini. Karena saya tidak tertarik dengan MLM, saya dengan sopan menepis ajakan teman saya itu. Namun karena teman saya tidak menyerah dan terus meminta-minta agar saya mau ikut MLM, lama-lama kesabaran saya habis juga. Saya berulang kali mengatakan tidak mau dan akhirnya menyudahi telepon tersebut. Hati saya masih mendongkol karena saya tidak memandang dia sebagai teman lama yang menelepon, melainkan seorang salesman yang sedang dengan segala cara, termasuk atas nama pertemanan agar saya membeli “produk” yang dijualnya.

Kita semua tidak menyukai seorang salesman yang agresif. Maka dalam menjalankan mandat Injil, kita harus bersikap sopan dan menghargai pendapat orang lain. Mintalah ijin ketika akan menyampaikan Injil Kristen. Hargai apabila mereka menolak. Pada saat itu, sekalipun mereka menolak, kita tidak akan kehilangan persahabatan kita dengannya. Dan suatu waktu bukannya mustahil akhirnya mereka bersedia mendengarkan dan akhirnya percaya pada Kristus.

6. Ingatlah bahwa Tuhanlah yang mempertobatkan orang. Itu bukan hasil usaha kita. Tuhan seringkali menggunakan banyak orang untuk membawa 1 orang kepada diri-Nya. Misalnya: sebut saja Billy, yang belum percaya, dia mengetahui tentang adanya seseorang yang bernama Yesus dari temannya, Ami. Namun dia terkesan akan kesaksian hidup yang benar dari seorang Kristen bernama Susi. Akhirnya Tommylah  yang mengabarkan Injil secara penuh kepada Billy sehingga akhirnya ia bertobat. Dalam contoh ini, Tommy dipakai Tuhan sebagai penutup rangkaian usaha Allah untuk memanggil Billy. Itu sama sekali bukan hasil usaha Tommy seorang.

Karena itu hendaknya kita jangan menganggap bahwa kita sudah mengabarkan Injil hanya jikalau kita sudah menceritakan Injil dengan lengkap. Usahakan untuk menceritakan Injil secara lengkap, namun apabila kesempatannya tidak tersedia, berdoalah supaya ada orang lain yang boleh menceritakan Injil kepadanya.

7. Persiapkan hati. Bagaimana pun baiknya kita, sehalus apapun pendekatan kita kepada orang tidak percaya lain, dan setulus apapun persahabatan kita, pengabaran Injil selalu memiliki resiko untuk ditolak dan dicaci maki. Dalam hal ini apabila kita sudah berusaha melakukan segalanya dengan penuh hikmat dan sikap menghormati orang lain, kita tidak perlu kecewa, bimbang atau takut. Tuhan sudah menubuatkan bahwa dunia memang menolak Injil. Yesuslah yang ditolak mereka, bukan kita. Injil adalah suatu berita yang begitu dasyat sehingga Iblis gemetar dan membuat perlawanan kepada para pengabar Injil, sebaik apapun pendekatan Anda. Maka persiapkan hati kita dan tetaplah teguh dalam usaha kita. Setiap pekerjaan kita tidak akan sia-sia.

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”  (1Kor 1:18)
Semoga dengan tips-tips di atas membuat Daniel semakin giat dalam mengabarkan Injil.