Syalom asksophia

Ada hal yang sudah saya gumulkan sejak lama dan saya rasa ini sudah menjadi masalah di setiap gereja jaman sekarang ini. Ini mengenai pemuda di gereja saya yang saya rasa sudah kehilangan gairah dalam melayani maupun beribadah. dari waktu kewaktu kuantitas semakin berkurang dan ini berimbas pada semangat kami sendiri sebagi pemuda. Segala macam cara saya sudah coba untuk membangkitkan kembali semangat yang dulu, bahkan saya sempat mengikuti cara karismatik dalam persekutuan yang ada, tetapi bagi saya itu membuat pemuda di gereja saya kehilangan jati diri sesungguhnya yang injili dan lebih berorientasi pada Firman, sehingga saya dan teman-teman menghilangkan metode ini. karena hal ini juga sempat persekutuan dari minggu keminggu hanya di isi dengan ibadah biasa dan saya merasa firman yang disampaikan sangat hambar karena tidak tepat sasaran dengan kehidupan pemuda serta lebih sering firman ini sudah disampaikan sebelumnya dalam kebaktian umum, ini membuat para pemuda merasa tidak ada bedanya datang kepemuda dengan tidak. kamipun melaukan perombakan secara besar-besaran diantaranya membuat variasi dalam persekutuan dengan metode talkshow, diskusi, PA dan lain-lain namun kami tetap berorientasi pada pembahasan Firman Tuhan dalam setiap kehidupan pemuda. Namun karena sudah terlalu lama dibiarkan perombakan ini hanya ramai di awal namun kembali hambar akhir-akhir ini. yang ingin saya tanyakan:

1. Apa yang seharusnya ada dalam diri pemuda dalam pandangan reformed?
2. Apakah yang penting didalam sebuah persekutuan pemuda?
3. Banyak dari pemuda kami yang akhirnya mundur dan lebih memilih gereja karismatik untuk persekutuan, banyak yang mengatakan persekutuan ditempat kami terasa hambar dan tidak membangun serta metodenya tidak berasa seperti pemuda. Apakah metode sangat penting dalam pandangan reformed? Dan jika penting adakah metode-metode persekutuan yang sesuai dengan pandangan Alkitab?
4. Bagi saya dalam persekutuan yang terpenting adalah Firman, namun dalam persekutuan juga penting dalam dalam membangun kebersamaan dan rasa saling memiliki. bagaimana menurut pandangan reformed sendiri dan adakah cara agar hal ini bisa terbangun?

inilah beberapa pertanyaan dari saya, mohon maaf jika ada salah kata, saya harap ask sophia bisa membantu saya dalam menyelesaikan masalah ini. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati

(MH)

 

JAWAB:

[CKM]:

  1. Apa yang seharusnya ada dalam diri pemuda dalam pandangan reformed?

Jawab:

Pemuda bisa menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian

Orang muda identik dengan kurangnya pengalaman hidup, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ditambah dengan pemikiran yang belum matang, tidak jarang kesalahan-kesalahan fatal terjadi dalam masa-masa ini. Raja Salomo menyadari kelemahan ini dengan jelas (Amsal 1:4). Maka dari itu, ketika ia memerintah sebagai raja, ia meminta hikmat dari Tuhan untuk dapat memerintah umat-Nya dengan adil. Ia sadar bahwa dirinya masih sangat muda dan belum berpengalaman. Salah satu tujuan kitab Amsal ditulis pun adalah untuk mengobati kelemahan ini, yakni untuk memberikan kecerdasan kepada orang tak berpengalaman dan kebijaksanaan pada orang muda.

Pengkhotbah 11:9 sudah memberikan peringatan bahwa hidup pemuda/i akan menghadapi gejolak keinginan hati dan pandangan mata. Ditambah keinginan kuat untuk hidup berdikari maka teriakan untuk menuntut kebebasan yang cenderung berujung pada keliaran kerap kali terlontar dari hati dan mulut pemuda/i. Hal ini dilihat dengan jelas oleh sang Pengkhotbah. Maka ia melanjutkan agar orang muda harus sadar bahwa segala hal yang dilakukannya, akhirnya harus ia pertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah. Kekuatan dan dorongan kebebasan yang begitu bergejolak dalam diri orang muda harus dikontrol dengan kesadaran akan panasnya murka Allah dan kedahsyatan takhta penghakiman-Nya.

Masa muda juga adalah waktu-waktu krusial di mana seseorang menetapkan fondasi, jalan, dan arah hidupnya (Amsal 22:6). Inilah masa di mana seseorang seharusnya menerima seluruh pengajaran dan prinsip kebenaran yang akan terus ia pegang erat seumur hidup. Jika masa tersebut diisi dengan segala hal yang berharga, berbobot, dan bermutu, maka arah hidup orang tersebut akan jelas dan bahkan sampai masa tua ia akan tetap mengikuti jalan tersebut. Maka dari itu, sangatlah krusial bagi seorang muda untuk memperhatikan apa yang mengisi dan membentuk hidupnya. Sebab hal itu akan memiliki dampak langsung sampai ke penghujung hayatnya, bahkan sampai pada kekekalan.

Seorang muda sangat mudah jatuh dalam superiority ataupun inferiority complex (Yeremia 1:6-8). Dari Yeremia 1:6-8, kita melihat bahwa nabi Yeremia menolak panggilan Tuhan dengan alasan bahwa ia masih muda. Mungkin sering kali kita juga bersikap demikian untuk menolak tanggung jawab yang harusnya kita kerjakan. Secara tidak sadar, kita hanya memusatkan seluruh perhatian kita kepada kemampuan diri dan lupa bahwa Tuhan yang memanggil juga adalah Tuhan yang berjanji, menyertai, menopang, dan menguatkan. Maka dengan tegas Paulus juga menasihatkan Timotius agar jangan ada yang memandangnya rendah karena ia masih muda. Ketika kita masih muda dan kurang pengalaman/pengetahuan, bukan berarti kita tidak bisa menjadi teladan dan membangun orang lain. Justru orang muda seharusnya bisa menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Terlebih lagi, Allah yang kita percaya adalah Allah yang pernah mengutus dan menaruh firman-Nya dalam hati dan mulut orang-orang muda.

  1. Apakah yang penting di dalam sebuah persekutuan pemuda?

Jawab:

A. Membawa para pemuda pemudi kembali kepada Alkitab dan setia mengabarkan injil.
Dalam persekutuan, para pemuda mendapatkan penjelasan firman Tuhan melalui topik-topik yang disesuaikan dengan kebutuhan pemuda. Namun persekutuan pemuda bukanlah grup PA ataupun grup KTB karena itu perlu memperhatikan poin B.

 

B. Selain itu para pemuda menjalin persaudaraan dalam iman sehingga kita bisa tumbuh bersama-sama, saling melayani, saling menguatkan, dan saling mendorong dalam pelayanan dan pekabaran injil.

 

Kis 2:42a- “ Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.”

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘fellowship’ (= persekutuan) adalah KOINONIA, yang bisa berarti:

  • fellowship / partnership (= persekutuan).
  • a close mutual relationship
  • participation
  • sharing in
  • contribution
  • gift

Tetapi kita harus membedakan ‘togetherness’ dan ‘fellowship’. Kalau hanya sekedar berkumpul dan bersenang-senang, maka itu adalah ‘togetherness’, bukan ‘fellowship’, dan tidak berbeda dengan perkumpulan sekuler yang juga bisa melakukannya. Persekutuan Kristen harus melibatkan Allah, dan bersifat rohani. Tanpa adanya hubungan yang dekat dengan Tuhan, kita tidak mungkin mempunyai hubungan yang dekat satu dengan yang lain.

  1. Banyak dari pemuda kami yang akhirnya mundur dan lebih memilih gereja karismatik untuk persekutuan, banyak yang mengatakan persekutuan ditempat kami terasa hambar dan tidak membangun serta metodenya tidak berasa seperti pemuda. Apakah metode sangat penting dalam pandangan reformed? Dan jika penting adakah metode-metode persekutuan yang sesuai dengan pandangan Alkitab?

 

Jawab:

Budaya kontemporer, yang seringkali juga disebut sebagai budaya popular, adalah suatu budaya yang dibentuk dari subkultur-subkultur yang merupakan usaha dari pemuda untuk mengekspresikan diri dan komunitasnya. Dengan demikian, budaya kontemporer selalu berubah dan bergerak. Bahkan makin berakselerasi dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi yang mempermudah, mempercepat, dan memper-‘murah’ akses informasi.

Budaya kontemporer pada masa ini lebih banyak mempengaruhi dan membentuk gereja, daripada gereja yang mempengaruhi dan membentuk budaya.

Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengungkapkan lima pendekatan antara kebudayaan dan Kristus namun perhatikan, kelima pendekatan ini tidak dapat dikatakan benar secara keseluruhan, yakni:

  1. Christ against culture
  2. Christ of Culture
  3. Christ above Culture
  4. Christ and Culture in Paradox
  5. Christ Transform Culture

Saya sendiri lebih setuju dengan pendekatan ‘Christ Redeem Culture’

  1. Mindset. Dalam hal ini kita perlu menyamakan kepada setiap orang yang datang ke persekutuan. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda ketika ia datang ke persekutuan. Ada yang betul-betul mencari persekutuan dengan saudara seiman, ada pula yang sekedar kumpul-kumpul da nada juga yang sekedar menjadi penonton. Hal ini berkaitan dengan pola pikir dan motivasi setiap orang. Jika ia datang hanya karena ingin menonton hiburan (musiknya atau khotbahnya) maka ketika ia melihat persekutuan ini tidak membuat dirinya puas, asik maka dia akan menilai persekutuan itu hambar. Namun yang terpenting adalah bagaimana hubungan pribadi ia dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu memengaruhi pikiran dan tindakan seseorang.
  2. Metode tidak terlalu ditekankan dengan catatan persekutuan diselenggarakan sesuai dengan prinsip Alkitab. Kalau mau disebut metode, maka persekutuan harus menarik, relevan, dan benar. Menarik bukan artinya sama dengan apa yang ditawarkan dunia. Pemuda punya banyak alternative untuk mengikuti kegiatan lain yang lebih menarik daripada persekutuan. Menarik disini artinya melalui komunikasi yang menarik. Memang Tuhan bisa pakai segala jenis gaya komunikasi namun tidak salah jika kita mempersiapkan diri dengan komunikasi yang menarik tapi benar.

 

 

 

  1. Bagi saya dalam persekutuan yang terpenting adalah Firman, namun dalam persekutuan juga penting dalam dalam membangun kebersamaan dan rasa saling memiliki. bagaimana menurut pandangan reformed sendiri dan adakah cara agar hal ini bisa terbangun?

 

Jawab: Sudah dijawab pada bagian 2 B.

 

[DSB]:

Pemuda gereja masa kini menghadapi tantangan yang besar. Gaya hidup modern yang penuh dengan kenikmatan dan entertain membuat kegiatan gereja tidak lagi menjadi daya tarik. Kegiatan pemuda di gereja saat ini hanya menjadi salah satu PILIHAN kegiatan dari begitu banyak kegiatan yang ditawarkan oleh dunia dewasa ini. Kami pun dulu pernah menjalani komisi pemuda yang mengandalkan kegiatan yang luar biasa bulan demi bulan. Setiap kegiatan memang membuat kuantitas persekutuan meningkat pesat, namun setiap minggu tanpa event khusus justru melempem. Dan event yang harus kita buat harus dibuat lebih meriah dan lebih meriah lagi. Ini jelas bukanlah jawaban dan metode yang benar dalam membangun pemuda gereja.

Kita harus kembali lagi kepada pertanyaan berikut:

Apakah tujuan persekutuan pemuda?

Apakah tujuannya hanya kebersamaan, persekutuan belaka? Ataukah tujuannya memang agar para pemuda diperlengkapi?

Kalau memang gereja merindukan pemuda yang berkualitas, menjadi tulang punggung gereja, menjadi terang yang menyilaukan dalam masyarakat, maka persekutuan pemuda haruslah diarahkan untuk menumbuhkan pemuda, bukan hanya sekedar membina hubungan persaudaraan belaka. Pertumbuhan sejati tidak dapat dikarbit, membutuhkan waktu, keringat dan air mata mentor, konselor dan yang terpenting lagi adalah fondasi Firman Tuhan yang solid.

Tidak ada gereja yang dapat menjadi kuat tanpa memiliki fondasi Firman Tuhan yang kuat. Kebersamaan memang bisa sedikit menolong, namun saat kesulitan menerpa, tanpa pemahaman Firman Tuhan yang kokoh, setiap orang akan mengambil jalan yang menurutnya benar masing-masing.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yes 53:6a)

Gereja Willow Creek yang terkenal itu setelah mencoba melakukan berbagai pendekatan untuk membuat jemaat bertumbuh, akhirnya menemukan melalui sebuah survei yang diikuti oleh 1000 gereja di Amerika, bahwa hanya ALKITAB sajalah yang mempunyai kuasa mengubahkan dan menumbuhkan orang.

Namun jangan dilupakan bahwa Yesus berkata bahwa orang yang melakukan Firman Tuhan itulah yang dikatakan mempunyai dasar yang kokoh. Pembelajaran Firman Tuhan yang dalam harus seimbang dengan upaya aplikasi Firman dalam kehidupan sehari-hari.

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
(Mat 7:24-25)

Maka dari itu, pemuda harus mempunyai proyek-proyek ketaatan yang dapat dijalankan baik secara pribadi, maupun secara kelompok. Kegiatan penjangkauan atau kegiatan pelayanan kasih (sosial) juga penting, namun pola pikirnya bukan karena kegiatan sosial itu menyenangkan, atau mendatangkan pahala, tetapi sebagai implementasi kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita.

Selain itu dalam persekutuan, hendaknya setiap orang dapat menguatkan satu sama lain dalam mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidupnya. Hal ini baru dapat dilakukan jikalau pemuda mempunyai kelompok-kelompok kecil yang menerapkan pemuridan sebagai pilar persekutuan pemuda.

Pada saat kita mencoba memperkuat fondasi yang kokoh dalam persekutuan ini, jangan terkejut kalau secara kuantitas jumlah memang akan semakin berkurang. Hal ini wajar karena memang lebih banyak orang Kristen yang lebih mencari kenyamanan dan kesukaan daripada rindu untuk bertumbuh di dalam Kristus. Tidak banyak orang yang bersedia diasah, ditegur, dan dibentuk. Yang banyak adalah orang yang ingin menonton, ingin teman, ingin segala sesuatu yang menguntungkan dirinya bahkan mujizat, tetapi tidak mau membayar harga mengikuti Yesus. Namun kalau kita konsisten pada “value” persekutuan yang alkitabiah ini, gereja akan menghasilkan sekelompok pemuda yang tangguh, bukan hanya untuk tulang punggung gereja, tetapi juga menjadi agen-agen perubah dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat, kini dan kelak saat berkeluarga.

Sebaliknya, gereja yang hanya menekankan jumlah tanpa memperhatikan prinsip ini, hanya akan menghasilkan segerombolan pemuda Kristen yang tidak tahu “gereja harus dibawa ke mana?” seperti yang sekarang sudah terjadi di banyak gereja.