Saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan dan saya percaya itu adalah kebenaran yg absolut dan mutlak, namun bagaimana juga cara kita menjelaskan kepada mereka yg belum percaya apalagi jika kita menggunakan ayat dalam Alkitab.

Mungkin banyak yg akan berkata : “Ya, itu kan kepercayaanmu, kalau Alkitab yg benar. Kalau kepercayaan saya, bukan itu yg benar, jadi apa yg kamu anggap benar, belum tentu benar menurut orang lain / agama lain.”

Jadi bagaimana menjelaskan kepada mereka bahwa Alkitab adalah kebenaran mutlak dan absolut?

Daniel

 

Jawab:

[MC]:

Sebenarnya pertanyaan Saudara dapat dibagi menjadi tiga bagian, yg pertama adalah apakah kebenaran itu bersifat absolut ataukah tidak. Yg kedua adalah bagaimana kita menggunakan ayat Alkitab dalam menghadapi orang yg belum percaya. Yg ketiga adalah bagaimana kita dapat meyakinkan kepada orang yg belum percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan merupakan kebenaran mutlak.

Pada kesempatan ini kami akan bahas pertanyaan pertama, yaitu apakah kebenaran bersifat absolut atau tidak.

Pembahasan untuk pertanyaan kedua dan ketiga dapat dibaca di sini. (Bagaimana Meyakinkan Orang Lain Bahwa Alkitab Firman Allah?)

Di saat ini acap kali kita mendengar pernyataan “apa yg benar untuk kamu belum tentu benar bagi orang lain.” Lalu bagaimana dengan posisi Kekristenan yg menganggap kebenaran bersifat mutlak?

Pertama-tama, kita harus ingat bahwa kebenaran adalah ekslusif dan bukan inklusif. Artinya, bila A adalah benar, maka hal-hal yang bertentangan dengan A pastilah tidak benar. Di dalam hukum logika, hal ini sering disebut dengan hukum non-kontradiksi. Misalnya saja, pernyataan “bumi itu bulat”. Bila pernyataan tersebut adalah benar, maka pernyataan bumi itu datar pastilah tidak benar.

Selanjutnya, kebenaran pasti sesuai dengan kenyataan dan realitas. Artinya, sebuah A adalah benar bila dan hanya bila di dunia nyata terdapat A, bila ternyata di dunia nyata tidak ada A, maka A bukanlah kebenaran. Bila kita aplikasikan dengan pernyataan “bumi itu bulat”, maka pernyataan tersebut benar dan hanya benar bila memang secara realitas bumi adalah bulat.

Kebenaran juga bersifat objektif. Baik kita menerima dan mempercayainya atau tidak, kebenaran tetaplah kebenaran. Misalkan kita mempercayai bahwa bumi itu datar, hal tersebut tidak akan mengubah kebenaran bahwa bumi itu bulat.

Kebenaran tidak akan pernah berubah, bila kebenaran tersebut berubah, artinya hal tersebut bukanlah kebenaran, tetapi sesuatu yg salah tetapi dipercayai sebagai kebenaran. Zaman dahulu orang percaya bahwa bumi itu datar dan hal tersebut dianggap sebagai kebenaran, akan tetapi penemuan teleskop akhirnya membuktikan bahwa bumi itu bulat. Apakah kebenaran tersebut berubah? Tidak, melainkan kita dahulu mempercayai sesuatu yg bukan kebenaran.

Terakhir, kita harus selalu ingat bahwa sumber segala kebenaran adalah Allah itu sendiri. Allah adalah standar kebenaran yg tertinggi, bahkan kita dapat mendefinisikan kebenaran sebagai berikut:

Kebenaran adalah apa yang Allah tetapkan sebagai benar

Maka kita lihat, pernyataan “apa yg benar bagimu, belum tentu benar bagi orang lain” sesungguhnya bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.

Pertama, pernyataan itu menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat subjektif. Untuk meruntuhkan argumen tersebut, berilah contoh sebagai berikut kepada orang tersebut:

Saya berhutang 100 juta kepada Saudara. Bila saat Saudara datang menagih hutang tersebut, dan saya bilang bahwa saya hanya berhutang 100 ribu, apa reaksi Saudara? Pasti menolak bukan? Lalu bagaimana jika saya katakan bahwa apa yg benar bagi Saudara (hutang saya 100 juta) tidaklah benar bagi saya dan hutang saya hanya 100 ribu? Maukah Saudara menerima argument saya dan menerima 100 ribu sebagai pelunasan hutang saya?

Kedua, pernyataan itu sesungguhnya menyatakan bahwa kebenaran bisa saja kontradiktif. Sebagai contoh mudah, kita ambil natur Kristus dalam Alkitab dan Quran. Di dalam Alkitab, Yesus adalah Allah dan manusia. Di dalam Quran, Yesus hanyalah seorang manusia biasa. Mungkinkah kedua pernyataan ini benar? Jelas tidak. Bila Yesus memang Allah, maka Quran dipastikan salah. Bila Yesus memang hanyalah manusia, maka Alkitab dipastikan salah.

Nah, bila pernyataan tersebut bertentangan dengan kebenaran, apakah pernyataan itu masih bisa diterima? Tidak!

Berangkat dari titik bahwa pernyataan “kebenaranmu belum tentu kebenaranku” tidak dapat diterima, maka tugas kita selanjutnya adalah menguji antara dua kebenaran dasar yg diperdebatkan, yaitu kebenaran dasar iman Kristen bertentangan dengan kebenaran dasar agama lain.

Perlu diingat, kita tidak mengatakan bahwa di dalam agama lain tidak ada kebenaran sama sekali. Segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Baik kebenaran itu ditemukan di dalam Alkitab (wahyu khusus) ataupun di tempat lain (wahyu umum), termasuk di dalamnya kitab-kitab agama lain. Maka kita tidaklah menolak bila ada orang yg mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan.

Yg kita tekankan di sini adalah pembeda antara Kekristenan dengan agama-agama lain di dalam “cara” kita berelasi dengan Allah, karena hal inilah yg akan membedakan bagaimana kita menjalani hidup kita setelah hidup kita di dunia ini berakhir. Dan bukankah ini adalah hal yg paling esensi dari kita mengikuti suatu agama?

Nah, dengan lima sifat dasar kebenaran yg telah kita bahas di atas, kita harus meneliti dan membandingkan klaim terhadap kebenaran yg dimiliki oleh semua agama.