Hari ini saya mendapat sebuah peryataan dari facebook .
Yang menurut saya cukup menganggu batin saya..Begini bunyinya.
 Pacaran beda SARA bukan masalah kalau kedua keluarga TIDAK FANATIK. Yang bikin ribet bukan bedanya, tapi fanatiknya.
Fanatik tentunya lebih identik dengan Agama.
Berhubungan dengan pertanyaan saya yg lalu mengenai pasangan hidup .
Tentang ayat 2 Korintus 6:14 mengenai pasangan seiman. 
 
Jadi timbul pertanyaan, yang mungkin saya rasa banyak anak muda Kristen yang juga menanyakannya … 
Bagaimana kita benar benar menerapkan ayat ini dalam prinsip mencari pasangan hidup. Terutama dengan anggapan orang lain (agama lain) yang menggangap “Kristen” terlalu fanatik karena menerapkan ayat ini… ? 
 
Bahkan bukan saja dari kalangan luar kristen, melainkan dari dalam kristen termasuk ibu saya, yang mungkin menganggap saya fanatik karena menerapkan ayat ini.. 
Saya jadi ingat pernyataan  seorang pendeta mengenai hal ini : 
” Jika kita mengaku Bapa kita adalah Tuhan Yesus Bagaimana kita bisa memilih pasangan yang tidak mau mengakui Bapa kita sendiri “? 
 
Bagaimana menurut sophia mengenai hal ini? 
Donny Silas (bukan nama sebenarnya)

 

JAWAB:

[DSB]:

Dear Donny,

Saya juga akan menjadi sangat sedih kalau usaha kita untuk mencoba menerapkan Firman Tuhan secara sungguh-sungguh justru mendapat penolakan bahkan dari keluarga terdekat sendiri. Dalam hal ini ibu Donny malah turut juga berpandangan bahwa Donny adalah orang ‘fanatik’ yang berlebihan dalam menganut agama Kristen.

Sayangnya, ibu dari Donny bisa jadi salah satu dari kemungkinan berikut:

  1. Orang Kristen sejati, namun karena menghadapi kasus adik Donny yang dekat dengan seorang non Kristen yang luar biasa baik dan berkecukupan sehingga imannya gamang dan akhirnya bertoleransi dengan pasangan non seiman. Kalau ibu Donny masuk kategori ini, Donny tidak perlu terlalu kuatir, hanya perlu banyak berdoa, karena Tuhan dapat berbicara kepadanya dan ibu Donny akan jauh lebih mudah untuk merubah pandangannya kembali.
  2. (maaf) bukan orang Kristen sejati. Seorang Kristen yang suam memang tidak memiliki dasar iman yang kokoh, sehingga mudah terpengaruhi oleh hal-hal dunia. Sama seperti benih yang jatuh di tengah semak duri (Matius 13:1-23). Dalam hal ini tanpa pertobatan yang sejati, ibu Donny tidak akan mudah untuk merubah pandangannya.

Dear Donny, kebenaran Alkitab itu mutlak bahkan sekalipun orang tidak menerima-Nya, hukum yang tertulis di Alkitab tidak akan berubah. Mengenai pasangan hidup, Tuhan memberikan perintah tersebut dengan tujuan yang agung yaitu:

  1. Untuk merasakan kasih-Nya.Allah ingin kita mengasihi dan melayani sesama atas dasar kasih Allah, bukan karena maksud yang lain (Yohanes 21:15-17) Inilah motivasi yang benar dalam melayani. Keluarga merupakan sarana untuk belajar dan menghayati kasih Allah. Melalui suami, melalui istri, atau melalui orang tua dan anak, anggota keluarga dapat menghayati kasih agape untuk dapat belajar dan mengerti akan kasih Allah yang begitu agung itu. Bila salah satu pasangan tidak percaya Kristus, akan sulit sekali keluarga ini dapat belajar kasih Allah yang sejati itu, terlebih lagi menyalurkannya kepada orang lain. Penyesuaian diri dari 2 orang yang mempunyai prinsip hidup yang sama saja seringkali berat, apalagi apabila masing-masing mempunyai prinsip hidup mendasar yang berbeda. Tak terbayangkan situasi di mana orang tua berdebat akan berbagai hal karena pola pikir orang Kristen dan non Kristen yang berbeda. Belum lagi apabila dalam keluarga sendiri ada upaya untuk saling mempengaruhi atau berupaya agar anak masuk ke dalam agamanya masing-masing, akibatnya bisa kehilangan kepercayaan satu dengan yang lain.
  2. Untuk melanjutkan misi Allah di muka bumi melalui generasi berikutnya.Tujuan Allah dalam pernikahan Kristen adalah untuk melahirkan anak-anak Allah. Mandat budaya (Kej 1:28)  tidak boleh berhenti pada generasi kita. Hanya orang Kristen yang sungguh-sungguh yang bisa menjalankan peran ‘menaklukan dan mengerjakan bumi’ itu sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Demikian juga karya keselamatan Allah harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, dimulai dari keluarga. Tanpa persatuan seiman orang percaya, perintah ini akan sulit dilaksanakan.

 

Karena dua hal ini perintah menikah dengan yang seiman merupakan perintah yang tidak dapat ditawar lagi.