Apa sih “esensi” dari pernikahan?

Sehingga perkawinan sesama jenis dilarang, beda agama dilarang dan sex pranikah dilarang?

Ataukah pernikahan hanya untuk sekadar untuk melanjutkan keturunan saja

Trims ya :))

(Maaf banget ya kalau dirasa saya banyak tanya hehe)

brightmagician

JAWAB:

[CKM]:

Untuk apa kita menikah? Ada berbagai alasan yang kurang tepat dan sebagian tidak tepat, di antaranya:

  1. Sudah lama pacaran,
  2. Umur sudah lanjut,
  3. Ingin punya anak/ penerus,
  4. Kebutuhan seksual,
  5. Ingin punya pendamping
  6. Dijodohkan/dipaksa orang tua
  7. Sudah terlanjur hamil.

Mengapa saya katakan kurang tepat (kecuali no.7 yang sudah pasti tidak tepat!)? Karena alasan-alasan ini tidak akan menjadi fondasi yang kuat yang walaupun bisa membuat orang memutuskan untuk menikah, tidak bisa membuat mereka tetap mempertahankan pernikahan tersebut. Alasan-alasan ini akan punah dengan berjalannya waktu. Alasan di atas memang pasti ada dan boleh ada, akan tetapi jika kita tidak memiliki alasan yang lebih mendasar, maka pernikahan kita hanya dilihat sebagai kebutuhan fisik semata. Sayangnya, kebanyakan orang tidak bisa melihat lebih jauh dari pengertian di atas.

Jadi pernikahan adalah:

  1. Pernikahan adalah ide Allah yang luar biasa. Maka tidak heran dalam Amsal 2 :17 pelacur dideskripsikan sebagai telah “melupakan perjanjian dengan Tuhannya”. Pasangan dalam pernikahan telah bersumpah satu sama lain, tetapi Tuhanlah yang membuat pernikahan itu sendiri.
  2. Pernikahan Kristen adalah sebuah perjanjian (covenant) antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang ditahbiskan dan dimateraikan oleh Allah. Pernikahan bukan sekedar acara yang dilakukan di gereja dengan memberkati pasangan yang akan menikah dan setelah itu selesai.
  3. Pernikahan merupakan sebuah perjanjian ilahi yang melibatkan Allah di dalamnya. Allah turut hadir dalam pembuatan perjanjian itu. Esensi pernikahan mengandung arti tidak hanya sebuah kontrak bilateral tetapi sebagai sebuah pertalian yang kudus antara suami dan istri dan antara pasangan dan Allah. Dalam bahasa Ibrani kata perjanjian adalah berit (covenant) mempunyai arti yaitu sebuah kesepakatan antara 2 orang atau lebih yang setia dan tidak akan melanggar atau memutuskan perjanjian itu. Perjanjian pernikahan merupakan hal yang serius di mata Tuhan dan masing-masing pembuat perjanjian dituntut kesetiaan.Tuhan adalah saksi dari perjanjian pernikahan tersebut.
  4. Pernikahan merupakan jawaban Tuhan bagi kebutuhan manusia yang terdalam hidup bersekutu dengan seseorang. Ketika manusia pertama diciptakan yaitu Adam dan Hawa, kata yang digunakan dalam Kejadian 2:18 adalah kata sepadan yang berarti “saling berhadapan.” Ayat ini mengungkapkan bahwa dalam hubungan yang begitu intim keduanya dipersatukan dalam persekutuan yang tidak terpisahkan yang memuaskan kerinduan paling dalam di dalam hati manusia.

Mengapa perkawinan sesama jenis, beda agama dan sex pranikah dilarang?

Ada tuntunan yang Tuhan sudah berikan kepada manusia mengenai pernikahan yaitu:

  1. Harus berlainan jenis. Bukan homo/lesbian (I Korintus 6:9-10)
    Dalam Kitab Kejadian, di mana Allah menentukan PEREMPUAN sebagai penolong LELAKI. Dalam Inggris, Adam and Eve, bukan Adam and Alan. Jodoh adalah lelaki dan perempuan, dan satu lelaki satu perempuan, karena mereka akan menjadi satu tubuh. Di sini jelas posisinya terhadap homosexualitas dan terhadap poligamy. Inilah design atau rancangan Tuhan tentang perjodohan manusia.
  1. Harus seiman (2 Korintus 6:14)
    Yang kedua, dalam 2 Koristus 6. Yaitu bahwa orang percaya tidak dapat dicampuradukkan dengan orang tidak percaya. Walaupun ayat ini konteksnya bukan dalam konteks pernikahan atau perjodohan, tetapi saya rasa prinsipnya pas nyambung, dan konsisten terhadap message seluruh Alkitab. Kekonsistenan ini bisa kita lihat juga dalam hubungannya dengan Perjanjian Lama, di mana orang Israel hanya boleh dinikahkan dengan bangsanya sendiri. Tanpa harus menyinggung terlalu dalam tentang Abrahamic Covenant, saya menganggap pembaca mengerti bahwa di PL umat Yahudi yang adalah pilihan Allah di PB menjadi umat Kristiani yang dipilih oleh Allah dan dibaptiskan ke dalam tubuh Kristus (contoh, baca Rom 2:28-29; Rom. 9:6-9). Hal inilah yang menyebabkan orang Samaria yang adalah setengah Yahudi dilecehkan, dan hal ini juga yang menyebabkan org Israel di PL dab PB tidak bergaul dengan umat ’kafir’. Dengan prinsip yg sama, dalam PB, umat Kristen tidak boleh menikah dengan yang tidak seiman.

Pernikahan Kristen juga merupakan penggenapan dari perintah Tuhan untuk ”fill the earth and subdue it” (Kej. 1:28)– bagian juga dari mandat budaya. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat adalah tempat di mana karakter anak dibentuk, dan tempat pula di mana keluarga itu harus menentukan (seperti Yosua) tujuan apa keluarga itu dibentuk – apakah untuk melayani dan memuliakan Tuhan, untuk memenuhi hasrat pribadi, atau untuk melayani keinginan pribadi. Oleh karenanya, kita perlu sadar, bahwa di dalam kata “pasangan yang simbang” bukan hanya pasangan Kristen-Kristen yang dituntut, tetapi juga bagaimana komitmen mereka dalam menjalani hubungan mereka. Dalam 2 Kor 6, contextnya memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak diperbolehkan untuk bercampur dengan yg tidak percaya agar supaya Tuhan menjadi Bapa kita (ayt. 18). Dalam kata lain, ini adalah bagaimana kita menjaga iman Kristiani dalam keluarga. Bukan alasan-alasan legalistik yang hanya menaruh aturan tanpa pengertian tetapi kita diminta menjaga hubungan kita demi kemuliaan Allah. Inilah pernikahan Kristen. Di mana sang suami berkomitmen untuk menjadikan keluarga yang bertumbuh dalam iman dan melayani Tuhan. Di mana sang istri mengikuti sang suami karena yakin atas ajakannya untuk memuliakan Tuhan. Di mana mereka berdua berkomitmen sebagai orang tua untuk membesarkan anak mereka dalam penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Saya bertanya, jikalau ada keluarga yg seperti ini, bagaimana mungkin Tuhan tidak memberkati? Terlepas dari segala aturan legalistik, yg harus kita tanyakan kepada diri sendiri adalah, kepada siapa kita hendak menyerahkan pernikahan kita? Jika kepada Tuhan, otomatis dan tanpa harus disuruh kita akan MEMILIH partner yang mempunyai keinginan yang sama.

  1. Sepadan (Kejadian 2:18)
    Tuhan meminta kita atau Tuhan menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan untuk kita. Jadi pilihlah istri atau suami yang juga sepadan dengan kita. Sepadan bukan berarti sama, tetapi justru berlawanan dengan kita dan saling melengkapi sehingga saya dan dia membentuk keutuhan kesempurnaan, karena saling mengisi kekurangan masing-masing. Nah ini menyangkut sebetulnya kecocokan sifat dan karakteristik.

Jadi Alkitab sebetulnya hanya memberikan kita 3 garis besar, 3 pedoman dalam mencari jodoh. Dalam prosesnya kita terus-menerus meminta pimpinan Tuhan sebab dikatakan di kitab Yakobus juga siapa yang tidak punya hikmat mintalah hikmat kepada Tuhan dan saya percaya Tuhan akan buka jalan.

Seringkali kita ini gagal melihat faktor yang ketiga tadi, kita hanya melihat o….dia seiman, cocok pasti dengan kita Tuhan izinkan, kedua o….sesuai dengan selera saya, saya suka dengan orang yang seperti dia dan sebagainya. Nah tapi kita gagal melihat dengan jelas kecocokan kita, akhirnya kita menikah dengan seseorang yang tidak cocok dengan kita sering bertengkar, salah pengertian, kita rasanya lebih banyak susahnya daripada senangnya dengan dia. Tapi karena dia sesuai selera kita, kita tidak rela meninggalkan atau memutuskan hubungan dengan dia, akhirnya kita menikah dan kita berharap bahwa Tuhan akan mengubah dengan otomatis sifat-sifat yang tidak cocok itu dengan kita, itu tidak terjadi.

Nah kebanyakan Tuhan akan berkata ya, “Silakan kalau engkau tetap ingin menikah, “Tuhan sudah tunjukkan kepada kita ketidakcocokan ini, seringnya bertengkar, seringnya mempertengkarkan hal yang sama, seringnya kita merasa tak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi kita, tapi tetap kita melangkah masuk ke pernikahan, ya Tuhan akan diamkan namun nanti kita mulai menuai buahnya betapa tidak cocoknya kita. Dan pada saat itulah kita bertanya-tanya, “Tuhan, ini ada yang salah ini,” sebetulnya ya bukan salah Tuhan tapi memang kita kurang melihat atau memperhatikan ketidakcocokan itu.