salom…
yg mau saya tanyakan adalah menurut pandangan Kristen, apa itu berbagi (curhat) dan mengeluh.Apakah sama atau berbeda? Dan apakah kita sebagai seorang Kristen boleh melakukannya terhadap sesama manusia?Mohon penjelasannya dan Firman Tuhan yg dapat menguatkan.Cukup lama dan bimbang dalam mencari tahu mengenai hal ini.Terima kasih sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati kita.

Emy

JAWAB:

[MC]:

Dear Emy,

Sebagaimana Allah Tritunggal adalah Allah yang berelasi di antara ketiga pribadi-Nya, maka manusia yang diciptakan di dalam gambar dan rupa Allah pun adalah mahluk yang berelasi. Di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini, mau tidak mau, pasti ada hal-hal yang acapkali membuat kita merasa berat, sedih, kecewa, dll.

Meninjau dua fakta di atas, yaitu bahwa manusia adalah mahluk yang berelasi dan juga bahwa manusia dihadapkan dengan berbagai masalah yang timbul sebagai akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka tindakan mengeluh dan curhat sebagai respons dari apa yang dihadapi sesungguhnya adalah suatu hal yang sangat wajar dan dapat diterima.

Alkitab sendiri berkali-kali mencatat ayat yang mengemukakan hal ini, bahkan kalau kita baca kitab Mazmur, banyak di antaranya berisi keluhan terhadap apa yang dihadapi. Sebagai contoh: Mazmur 3, 13, dan 22. Ayub pun dalam penderitaannya mengeluh dengan sangat keras, misalnya saja dalam Ayub 3. Dalam Perjanjian Baru pun kita lihat banyak orang yang mengeluh, misalnya saja orang lumpuh di dalam Yohanes 5:7, yang mengeluh kepada Yesus bahwa tidak ada orang yang menolongnya.

Di setiap contoh tersebut, kita lihat bahwa Allah maupun Yesus tidak pernah menjawab keluhan-keluhan tersebut dengan teguran atau amarah. Bahkan salah satu gelar Roh Kudus adalah Sang Penghibur (Yohanes 14:26, 15:26, 16:7). Dalam Roma 8:26, Paulus juga menyatakan bahwa Roh Kudus “berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”. Ibrani 5:7 menyatakan bahwa Yesus sendiri “mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia.”

Paulus juga mendorong kita untuk menghibur orang yang tawar hati (I Tesalonika 5:14), menghibur mereka yang berduka (I Tesalonika 4:18). Selain itu juga salah satu tugas dari penilik jemaat (diaken) adalah untuk menasehati orang berdasarkan ajaran yang benar (Titus 1:9).

Jadi dapat kita simpulkan, mengeluh dan curhat adalah suatu proses yang sangat wajar terjadi dalam hidup kita dan bahkan sebagai anak-anak Allah, kita memiliki tanggung jawab untuk dapat membantu saudara-saudara kita yang memiliki keluhan dan beban (Filipi 2:1-4)

Yang harus kita hindari adalah apa yang seringkali Alkitab katakan sebagai bersungut-sungut. Kalau kita ingat pengalaman bangsa Israel saat mereka keluar dari Mesir dan dalam perjalanan menuju tanah Kanaan yang telah dijanjikan Tuhan, berkali-kali kita menjumpai bahwa bangsa Israel bersungut-sungut (Keluaran 15:24, 16:2, 17:3; Bilangan 11:1, 14:2, 16:41, dll).

Di mana letak perbedaan antara “mengeluh” dan “bersungut-sungut”? I Korintus 10:1-13 mencatat dosa-dosa yang dilakukan bangsa Israel selama mereka berkelana di padang gurun, dan salah satu yang dicatat di sana adalah dosa bersungut-sungut (ayat 10). Dari konteks ayat-ayat selanjutnya, di mana Paulus berbicara mengenai pencobaan dan bagaimana Allah menolong umat-Nya, maka dapat kita simpulkan bahwa yang membedakan antara keluhan dan sungut-sungut di sini adalah respons kita terhadap Allah saat kita menghadapi kesulitan.

Keluhan kita seharusnya menjadi pembuka hati kita terhadap Allah. Saat kita mengeluh, baik itu dalam doa ataupun dalam curhat, kita harus yakin dan percaya bahwa Allah akan menolong kita. Pertolongan itu dapat datang dalam bentuk Firman Tuhan langsung saat kita membaca Alkitab maupun dalam bentuk nasehat atau penghiburan (yang tentunya tetap sesuai dan berlandasan dengan Firman Tuhan) yang diberikan oleh saudara seiman kita.

Sungut-sungut sebaliknya menyatakan bahwa kita memiliki sikap yang memandang bahwa masalah kita lebih besar dari Tuhan kita dan Tuhan tidak dapat atau mau menolong kita. Alih-alih berpaling kepada Tuhan, dalam sungut-sungut justru kita menolak Allah yang Maha Kuasa, Maha Kasih, Maha Mengerti dan Roh Penghiburan yang telah Ia utus untuk menolong kita.

[DSB]: 

Bersungut-sungut yang dilakukan oleh bangsa Israel adalah menggerutu dan mengeluhkan keputusan/perintah Tuhan. Tuhanlah yang menjadi subjek keluhan mereka. Ini mengandung arti ketidakpercayaan bangsa Israel kepada Tuhan. Padahal dengan mata kepala mereka sendiri melihat keajaiban dan mujizat yang Tuhan lakukan demi membebaskan mereka.

Kita boleh mengeluh dan curhat kepada Tuhan, namun janganlah kita menggerutu akan Dia yang telah memberikan yang terbaik untuk kebaikan kita sendiri.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)