aku pusing dengan hal-hal yang tidak logis dalam alkitab itu dan terkesan mengada-ada. Misalnya:

larangan minum alkohol/anggur/yang memabukkan:
Imamat 10:9 “JANGANLAH ENGKAU MINUM ANGGUR ATAU MINUMAN KERAS, ENGKAU SERTA ANAK-ANAKMU, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk SELAMANYA bagi kamu TURUN-TEMURUN.

Hakim-hakim 13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, JANGAN MINUM ANGGUR ATAU MINUMAN YANG MEMABUKKAN dan jangan makan sesuatu yang haram.

tapi di ams 31:6 Berikanlah minuman yang keras kepada orang yang putus asa, dan air anggur kepada orang yang sangat berdukacita hatinya.
Minuman keras adalah untuk mereka yang merana dan bersedih hati.

kenapa di ayat tersebut tiba-tiba malah ada suruhan untuk minum anggur padahal sudah jelas pada ayat di atasnya kalau anggur itu dilarang??
kenapa alkitab seolah-olah plin plan.. buktinya ada ayat yang saling bertentangan

ada juga ayat membingungkan seperti ini:

KITAB KEJADIAN: Tuhan menggauli Sara.

21:1. TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.

21:2 Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.

Tuhan menggauli Sara? Jadi anaknya Sara adalah anak Tuhan juga? kenapa kita tidak menyembah anak Sara juga seperti Yesus?

dan ayat-ayat yang bertentangan/membingungkan lainnya

Please.. Jawab pertanyaanku
maaf kata-kataku agak kasar.. tapi aku benar-benar bingung dengan semua pertanyaan di kepalaku itu
Kristine

 

JAWAB:

[DSB]:

Dear Kristine,

Maafkan kami dalam keterbatasan kami tidak dapat menjawab pertanyaan Kristine dengan segera. Saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Kristine dengan suatu kisah. Semoga kisah ini dapat membantu menjawab kegundahan hati Kristine.

 

Suatu hari, sewaktu aku sedang bersih-bersih di rumah, aku menemukan sepucuk surat di lantai atas, di bekas kamar nenekku yang sekarang telah menjadi gudang. Surat itu terlihat sudah kuning. Sepucuk surat tanpa amplop, penuh lipatan dan debu. Terlihat ada bekas tetesan air di beberapa tempat, tanda air mata yang menetes ke surat itu.

“Surat dari siapa ya?” demikian gumamku. Aku dapat menebak bahwa surat itu pasti untuk nenekku. Hal ini terlihat dari usia kertas surat yang sudah tua, huruf-huruf sambung yang merupakan tanda tulisan seseorang yang berasal dari generasi yang sudah uzur, dan tempat penemuan surat adalah di bekas kamar nenekku itu.

Penasaran dengan isi surat itu, pelan-pelan aku membuka surat itu dan membacanya. Demikian bunyinya:

Djogdjakarta, 21 Maret 1947,

Sinta kekasihkoe,

Apa kabar? Apakah kamoe soedah makan? Djangan loepa oentoek banjak minoem soepaja kamoe tetap sehat.

Soedah lama akoe hendak menoeliskan soerat ini kepadamoe, namoen setiap kali tangankoe moelai menoelis, akoe kesoelitan mengoengkapkan perasaankoe sehingga akoe oeroeng mendjelesaikannja. Tetapi achirnja akoe mengoeatkan hatikoe oentoek tetap menoelis soerat ini padamoe.

Sinta, soedah terlaloe lama akoe berada di perantaoean. Begitoe lamanja sehingga akoe soedah loepa akan begitoe banjak hal jang telah terdjadi di Djakarta. Akoe bahkan soedah loepa  kapan dan di mana kita pertama bertemoe. Dan di sini akoe memiliki banjak teman. Sebagian malah mendjadi sahabat jang lebih erat daripada keloearga. Di sini poela akoe berkenalan dengan Soewarni.

Warni adalah wanita jang tidak pernah akoe harapkan akan bertemoe di tanah rantaoe. Namoen nasib telah mempertemoekan akoe dengan dirinja. Dia seorang jang sangat baik, ramah dan sabar. Walaoepoen moelanja akoe tidak memperdoelikannja, tetapi dirinja jang begitoe loear biasa telah meloeloehkan hatikoe. Sekarang ini akoe soedah bertoenangan dengannja.

Maafkan akoe, tetapi sepertinja hoeboengan kita tidak bisa lagi dilandjoetkan. Hatikoe soedah menjadi milik Ratih. Baiknja kamoe mentjari pria lain sahaja. Pria jang jaoeh lebih baik daripada dirikoe. Loepakan sahaja akoe. Dirimoe akan lebih baik tanpakoe.

 

Tertanda

 

Amir Soekardi

 

Membaca isi surat tersebut membuat aku bingung. Bukankah Sinta adalah nenekku dan Amir Sukardi adalah kakekku? Bagaimana mungkin kakekku yang telah setia menemani nenekku hingga akhir hayatnya itu menuliskan surat sekejam itu kepada nenekku? Bahkan aku sering mendengar cerita mengenai kemesraan kakekku pada nenekku ketika mereka masih hidup dari orang tuaku.

“Hmmm, pasti ada maksudnya kakekku menuliskan surat itu kepada nenekku setahun sebelum pernikahan mereka,” pikirku, “Aku akan coba menanyakan kepada ayahku, mungkin beliau mengetahui apa yang terjadi pada diri kakek dan nenekku.”

Ayahku kebetulan ada di ruang tamu sedang membaca koran. Maka segeralah aku bertanya.

“Ayah, aku menemukan surat ini di gudang atas,” aku menunjukkan surat itu pada ayahku, “Isinya kakek memutuskan nenek, Yah. Apakah yang terjadi waktu itu? Bukannya Kakek pada akhirnya jadi sama Nenek?”

Ayahku membaca surat itu sebentar, lalu berkata, “Iya, kakek pernah mutusin nenek. Waktu itu masa perang mempertahankan kemerdekaan. Kakekmu itu sebenarnya seorang pejuang RI. Tapi karena takut nenekmu tidak menyetujuinya, diam-diam beliau pergi ke Jogja untuk membantu perjuangan RI dengan alasan mau merantau untuk berdagang.”

“Terus gimana, Yah?” kataku tidak sabar

“Kakek memutuskan nenek karena melihat kemungkinan besar ia akan wafat di medan perang melawan Belanda waktu itu. Makanya ia membohongi nenek bahwa ia telah bertunangan dengan wanita lain. Beliau berpikir nenekmu itu akan lebih bahagia dengan pria lain daripada menanti dirinya kembali, yang tak tentu juga kapan bisa kembali ke Jakarta. Padahal hatinya pun pedih waktu menuliskan surat itu.” Ayah terdiam sebentar, lalu melanjutkan, “Setahun kemudian kakekmu ternyata masih hidup dan kembali ke Jakarta. Untung nenekmu belum menikah dengan pria lain, sehingga mereka akhirnya bisa bersama kembali. Nah, mungkin nenekmu itu menyimpan terus surat itu sebagai tanda betapa kakekmu mencintai dirinya.”

 

Dear Kristine, membaca Alkitab sama seperti kita membaca sebuah surat yang telah ditulis lama sebelum kita ada. Kita perlu memahami latar belakangnya, konteksnya, dan menempatkan diri kita pada sudut pandang penulis maupun orang ke pada siapa surat itu ditujukan. Kita baru bisa memahami Alkitab dengan tepat, kalau kita bersedia menggunakan kacamata pemahaman yang sesuai. Dan kacamata itu tentunya adalah kacamata Kristiani, yaitu kepada siapa kitab itu ditujukan. Kita selamanya tidak akan bisa mengerti Alkitab apabila kacamata yang kita gunakan adalah kacamata agama lain. Karena itu ayat-ayat Alkitab yang dituduhkan saling bertentangan, sesungguhnya dapat dijelaskan dengan sudut pandang yang tepat.

Namun, apabila kegalauan hati Kristine sebenarnya terletak pada apakah Kekristenan merupakan Agama yang benar, maka batu ujian yang paling tepat digunakan adalah ketiga pertanyaan di bawah ini, yaitu:

  1. Apakah Yesus benar-benar ada dalam sejarah?
  2. Apakah Yesus benar-benar adalah Tuhan?
  3. Apakah Alkitab sudah diubah, diganti, diedit, direvisi atau dirusak?

Maka kami akan coba membahas 3 batu ujian tersebut dalam 3 posting berikutnya