Syaloom

Awalnya saya bernazar ke Tuhan untuk tetap teguh dan tidak ingin berpacaran karena ingin melakukan semua aturan dalam alkitab hingga saya berumur 26.Saya bernazar karena saya berhasil lulus ujian dan saya melakukan nazar tersebut saat masuk sekolah.
Saya masih pelajar SMA,dan saya baru mau ikut Pembelajaran Sidi (belajar menuju kedewasaan yang di sertai pembaptisan). Nah,saya takut nanti setelah lulus,saya harus ikut perjamuan kudus (meminum anggur). Sedangkan meminum anggur itu dilarang bagi orang yang sedang bernazar. Bagaimana solusinya?

Ariel (bukan nama sebenarnya)

JAWAB:

[DSB]:

Dear Ariel,

Dari penuturan Sdri Ariel, kelihatannya Sdri berusaha menjadi Nazir Allah seperti yang tertulis pada Bilangan 6:1-21. Sdri perlu mengetahui bahwa hukum Taurat terdiri dari:

  1. Hukum Moral (10 Perintah Allah)
  2. Hukum Seremonial (contoh: peraturan mengenai tata cara memberi persembahan)
  3. Hukum Sipil (undang-undang bagi bangsa Israel seperti hukum hutang-piutang, pembunuhan dan lainnya)

Hukum seremonial sudah tidak berlaku setelah kehadiran Kristus. Sunat digantikan baptisan, persembahan korban tidak diperlukan karena Kristus yang telah menjadi korban yang sempurna.

Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–. Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. (Ibrani 10:1-14)

Demikian juga hukum sipil yang berlaku secara spesifik hanya untuk bangsa Israel saja.

Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera (Efesus 2:15 )

Karena itu orang Kristen masa kini tidak lagi mengikuti aturan makanan haram, dan aturan taurat lainnya. Dalam hal ini maka aturan Nazir Allah juga merupakan hukum seremonial yang sudah tidak berlaku pada masa setelah Kristus.

Bahkan kalau dipikirkan secara logis, bagaimana mungkin hukum Nazir itu masih dapat dilakukan pada masa kini?

1. Peraturan tidak memotong rambut. Hal ini masih memungkinkan untuk seorang wanita, tetapi bayangkan kalau seorang pria harus melakukan hal tersebut pada masa kini.

2. Bagaimana dengan seremoninya? Seseorang tidak menjadi Nazir Allah hanya dengan mengucapkan janji saja, apalagi secara pribadi sendiri. Kita dapat membaca pada Bilangan 6 bahwa kenaziran seseorang ditunjukkan kepada imam, disertai dengan upacara seremoni yang mengikutinya. Sedangkan hukum seremoni itu sendiri sudah tidak berlaku lagi, bagaimana bisa upacara nazir dilakukan lagi pada masa kini? Terlebih lagi imam pada masa PL bukanlah hamba Tuhan pada masa PB. Imam adalah perantara antara umat dengan Allah, sedangkan pada masa PB, sudah tidak ada lagi imam karena Yesus sudah menjadi Perantara tunggal kita.

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1 Timotius 2:5)

Nazir memang sudah tidak ada lagi, namun manusia masih bisa bernazar. Bernazar adalah berjanji kepada Tuhan untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Sdri Ariel berhasil lulus ujian karena itu mengucapkan suatu nazar untuk melakukan segala aturan dalam Alkitab.

Sdri Ariel, lulus atau tidak lulus, kita wajib melakukan semua aturan dalam Alkitab. Hal ini bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Itu merupakan suatu konsekuensi bagi kita jika ingin mengikuti Kristus. Kecuali apabila ‘aturan’ yang Sdri maksudkan juga berarti melakukan semua hukum Taurat, maka sekarang kita mengetahui bahwa hukum Taurat (kecuali 10 perintah Allah) sudah tidak berlaku pada masa kini. Namun setiap aturan dan tuntunan yang tertulis dalam Alkitab selain itu wajib untuk kita lakukan.

Penting untuk Sdri Ariel ketahui bahwa suatu nazar tidak boleh diucapkan dengan sembarangan,

Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berpikir mengatakan “Kudus”, dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar. (Amsal 20:25)

Karena itu, sebaiknya Sdri Ariel lebih berhati-hati bila akan melakukan nazar di kemudian hari.