Apa maksud dari perumpaan bendahara yang tidak jujur, terutama di lukas 16:9?

brightmagician

 

JAWAB:

[CKM]:

Lukas 16:9, Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” apa maksudnya?

Ayat ini mmg salah satu yang bikin kita sakit kepala. Kenapa? sepertinya ayat ini bertentangan dengan dengan ayat 13.

Tapi kalau kita sedikit sabar dan teiliti maka kita mendapatkan jawabannya masih di Lukas 16:1-14 itu. Lukas 16:1-14 ini terdiri dari 3 bagian, yaitu: perumpamaan (ayat 1-8), aplikasi (ayat 9-13), keterangan tentang pendengar (ayat 14). Tiga bagian ini saling menjelaskan satu dengan lainnya.

Pertama, pengertian Mamon dulu. ‘mamon’ berarti ‘milik secara materi’ / ‘material possessions’ dan ini sebetulnya bukanlah suatu kata yang mengandung arti buruk.

  1. mamon berasal dari suatu kata yang berarti ‘to entrust’ (= mempercayakan). Jadi, mamon adalah harta yang dipercayakan kepada bank / orang lain.
  2. lama kelamaan, mamon bukan lagi sesuatu yang dipercayakan tetapi menjadi sesuatu yang dipercaya.
  3. akhirnya, mamon menjadi dewa dalam hidup manusia dan lalu ditulis dengan huruf besar (Mamon).

Jadi, dari perkembangan arti kata ‘mamon’ ini sudah jelas terlihat bahwa mamon yang mula-mula tidak ada jeleknya itu makin lama makin menjerat manusia. Uang memang merupakan sesuatu yang berbahaya. Kalau kita tidak berhati-hati, maka bukan kita yang menguasai uang, tetapi uang yang menguasai kita. Bdk. Ayub 31:24-28.

Kedua, Dari semua perumpamaan yang diajarkan Yesus, perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur adalah yang paling banyak menimbulkan teka-teki. Karena alasan itulah banyak penafsiran diberikan. Tiap-tiap penafsiran mencoba menjelaskan ajaran dari perumpamaan ini berdasarkan implikasi-implikasi etisnya. Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa perumpamaan ini ditempatkan di dalam latar belakang Yahudi dan menggambarkan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang Yahudi. Latar belakang dengan semua pokok permasalahannya harus disusun lagi untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan untuk memahami ajaran dari perumpamaan ini.

Ketiga, Saya coba persingkat. Perhatikan kontek, konteknya adalah mengenai bendahara yang tidak jujur. Sewaktu tuannya mau memeriksa pertanggungjawabannya, ia kalang kabut. Ia memanggil orang-orang yang berhutang pada tuannya dan bahkan mengurangi hutang mereka. Catatan pembukuanpun ia rubah. Untuk itu ada kemungkinan dengan uangnya sendiri ia membayar kekurangan yang ada dalam pembukuan. Jadi ia sebelum dipecat ia buru2 berinvestasi dengan tujuan supaya sandang papannya terjamin. Karena ia tahu dengan reputasinya pasti tidak ada orang yang mau memperkerjakannya karnea tuannyapun tidak akan memberikan surat rekomendasi. Di ayat 8, tuannya memuji ia sebagai orang yang cerdik. Mungkin si tuan juga melihat bahwa cara yang dilakukan si bendaharanya sama dengan yang ia lakukan.

Apa kata Yesus? Yesus bilang,”orang dunia tanpa memikirkan kehudupan setelah kematian terkadang bertindak lebih masuk akal. Mereka mempersiapkan masa depannya daripada dibandingkan dengan “anak-anak terang”. Mereka memakai uangnya untuk mempersiapkan masa depannya di dunia. Kenapa anak-anak terang tidak bisa memakai uangnya untuk mempersiapkan masa depannya yg kekal? Pakailah ‘mamon yang tidak jujur’ untuk mendapatkan teman2 di dunia yang akan datang. Uang ‘mamon yang tidak jujur’ karena terlalu sering uang didapat dengan cara tidak jujur dan digunakan untuk yang tidak jujur pula.

Ketiga, Secara tidak langsung Yesus berkata: bendahara yang tidak jujur itu dengan mengurangi jumlah hutang debitur tuannya, memandang ke masa depan; betapa lebihnya lagi umat Allah seharusnya membagikan milik mereka dan melihat kepada rumah mereka yang kekal. Umat Allah harus menggunakan milik duniawi mereka sebagai investasi rohani sama seperti orang¬orang duniawi menggunakan uang mereka untuk mendapatkan keuntungan material. Waktunya akan tiba di mana uang menjadi sesuatu yang sudah berlalu. Ketika kematian tiba, roh manusia kembali kepada Allah yang memberinya (Pengkhotbah 12:7). Allah menyambut semua umat-Nya yang tidak mengikat hatinya kepada kekayaan duniawi tetapi mengumpulkan harta di surga.

Orang-orang dunia mengetahui bagaimana menggunakan harta duniawi dan memakainya dengan cara-cara yang materialistis. Tetapi tiba-tiba mereka dapat melepaskan standar yang tidak jujur karena mengetahui bahwa pada hakikatnya kejujuran akan membawa hasil. Sebaliknya, orang-orang Kristen yang telah belajar standar hukum Allah sering dicondongkan untuk bersantai dan mengubah prinsip-prinsip Kristen. Mereka ingin yang terbaik dari dua dunia: mereka ingin memiliki iman Kristen yang terletak di atas kenyamanan masyarakat yang makmur; mereka ingin dikasihi Allah dan pada saat yang sama dipuji oleh manusia. Yesus berkata, “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” Jika orang yang tidak mengaku melayani Allah menyadari bahwa standar-standarnya bersifat fundamental, bukankah seharusnya mereka yang mengaku sebagai umat-Nya menjunjung tinggi hukum Allah, melakukan apa yang mereka ajarkan, dan melalui perkataan dan perbuatan memperlihatkan bahwa pada akhirnya uang akan habis tetapi kekayaan surgawi tidak akan berakhir selamanya? Di dalam surat penggembalaannya, Yakobus menasihati orang-orang Kristen yang memilih hidup dalam dua dunia. “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yakobus 4:4).

Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur. Mamon merupakan istilah Aram yang artinya uang atau harta milik. Bendahara yang tidak jujur itu mengetahui bahwa dia bisa minta tolong dari orang-orang Yang hutang-hutangnya ia kurangi. Mereka akan menghargai pertolongan keuangan tersebut, sehingga pasti akan senang untuk membantunya. Tuhan menyatakan secara tidak langsung bahwa harta di dunia dapat dipergunakan untuk menolong orang lain, dan rasa berterima kasih orang-orang yang tertolong itu akan memastikan suatu sambutan yang baik di dalam keabadian.