shalom..

langsung pada pertanyaan : adakah yang namanya dosa turunan/kutukan akibat ulah ortu atau nenek moyang ? sebab kami sekeluarga khususnya anak laki2 (ada 4 bersaudara yang laki2) mengalami permasalahan rumahtangga yang hampir sama yakni : kehidupan rumah tangga berantakan kawin pisah (ataukah ini hanya suatu kebetulan/kemiripan ? ), mohon saran : substansi doa seperti apa yang harus kami panjatkan ?

NN

JAWAB:

[MC]:

Dear NN,

Kekristenan mengenal sebuah konsep yang disebut dengan dosa asal. Akan tetapi, pengertian dari dosa asal ini adalah bahwa setiap manusia yang lahir ke dalam dunia telah terpengaruh oleh kejatuhan Adam dan Hawa selaku kepala / perwakilan dari seluruh umat manusia yang akan ada, yang merupakan keturunan dari mereka berdua, ke dalam dosa. Akibat dari pelanggaran Adam dan Hawa, seluruh manusia akhirnya mengalami beberapa hal.

Pertama, setiap manusia harus mengalami kematian sebagai hukuman langsung pelanggaran tersebut. Kedua, setiap manusia menjadi terbelenggu dosa. Setiap tindakan dan pikiran manusia, akhirnya dikuasai oleh dosa. Akibatnya, manusia tidak lagi memiliki kemampuan untuk tunduk kepada Allah. Sebaliknya, apapun juga yang mereka lakukan, kecenderungannya adalah ke arah kejahatan / kehancuran. Hal ini bukan berarti bahwa manusia sama sekali tidak dapat melakukan sesuatu yang baik, akan tetapi bahwa kecenderungan manusia adalah ke arah dosa.

Konsep dosa turunan yang Saudara tanyakan adalah sebuah konsep yang sering diusung oleh gereja-gereja karismatik. Sayang sekali konsep tersebut tidaklah Alkitabiah alias sesat! Apalagi bila konsep tersebut akhirnya mengarah kepada perlunya dilakukan ritual-ritual tertentu.

Lalu bagaimana dengan keluarga Saudara yang setiap anak lelakinya mengalami kehancuran dalam berumah tangga? Apakah itu bukan karena kutukan akibat orang tua / nenek moyang?

Ya, jelas kehancuran rumah tangga itu adalah akibat kutukan akibat nenek moyang, yaitu Adam. Sebagai akibat dosa, bukanlah sebuah hal yang aneh apabila sebuah keluarga yang di dalamnya diisi dengan orang-orang berdosa (termasuk bayi yang baru lahir sekalipun adalah orang berdosa), yang memiliki kecenderungan untuk kejahatan, untuk kemudian keluarga itu hancur berantakan.

Akan tetapi apakah itu adalah akibat kutukan karena perbuatan orang tua kita langsung? Pasti bukan.

Di sisi lain, keluarga darimana kita berasal sering kali membentuk diri kita. Sayang sekali Saudara tidak merinci bagaimana keluarga Saudara sendiri (Saudara dan ayah ibu serta adik kakak). Akan tetapi, seringkali apa yang Saudara lihat dalam keluarga Saudara, misalnya bagaimana Ayah memperlakukan Ibu, bagaimana orang tua memperlakukan anak, dsb, akhirnya tertanam dalam benak para anak. Kadang hal ini terjadi tanpa kita sadari. Akibatnya, ketika para anak mulai membentuk keluarga sendiri, apa yang telah tertanam dalam benak mereka akhirnya menjadi pola yang mereka gunakan di dalam keluarga baru tersebut.

Inilah yang menjadi alasan mengapa begitu banyak anak-anak dari keluarga broken home akhirnya memiliki keluarga yang hancur juga, karena mereka tidak pernah memiliki proses pembentukan yang baik, di mana mereka belajar seperti apakah sebuah keluarga seharusnya bertindak. Hal inilah yang akhirnya seringkali nampak seperti sebuah “kutukan”, padahal apa yang terjadi sebenarnya adalah akibat dari proses yang telah dijalani selama bertahun-tahun semenjak Saudara dan adik kakak Saudara masih kecil.

Tim kami percaya bahwa hal pertama yang harus kita lakukan adalah datang ke hadapan Kristus untuk mengakui bahwa kita semua adalah orang berdosa yang butuh pengampunan dan pertolongan dari Kristus. Terimalah Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara sungguh-sungguh.

Kedua, ingatlah janji Kristus dalam 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Saat kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita mengalami perubahan, dan salah satu perubahan yang terbesar adalah bahwa kita tidak lagi berada di bawah kuasa dosa, dengan demikian, kita akan dimampukan untuk melakukan yang baik dan berkenan di hadapan Allah, termasuk di dalamnya adalah melakukan perubahan-perubahan yang akan memulihkan keluarga kita.

Ketiga, carilah orang-orang Kristen yang memiliki pengertian yang benar mengenai Firman Tuhan. Lebih idealnya adalah bila mereka adalah konselor-konselor Kristen atau Hamba Tuhan yang memiliki panggilan dalam pelayanan keluarga. Mintalah bantuan mereka untuk mencari akar permasalahan yang mungkin tidak kita sadari. Mintalah mereka untuk membimbing kita mengenal konsep keluarga Kristiani yang utuh.

Ingatlah juga, bahwa sekalipun kita adalah ciptaan baru, kita masih hidup dalam daging yang tidak sempurna. Perjuangan untuk memulihkan apa yang telah terjadi akan menjadi sebuah pertempuran yang sangat tidak mudah, akan tetapi percayalah bahwa Tuhan sanggup menolong walaupun berember-ember air mata harus kita cucurkan.

[CKM]

Ya dan Tidak

Ya, berdasarkan Keluaran 20:5; Ulangan 5:9; Keluaran 34:6-7 &1 Korintus 15:22.

Tidak, berdasarkan  Ulangan 24:16 & Yehezkiel 18:20.

Keluaran 20:5, adalah bagian dari sepuluh perintah Allah. Sepuluh Perintah Allah dirancang dalam bentuk perjanjian. Pola perjanjian Raja-Pengikut (Suzerain-Vassal) yang kerap dipakai di Timur Dekat diterapkan di sini.

Perjanjian itu berisi kewajiban dari kedua pihak termasuk berkat jika Israel taat, dan hukuman jika tidak taat. Ini berarti, jika seorang ayah tidak taat kepada Tuhan, maka akibat ketidaktaatannya berpengaruh pada generasi (generasi) berikutnya. Dosa seorang ayah akan menyebabkan penderitaan bagi keturunan-keturunannya. Anak menerima akibat langsung dalam bentuk penderitaan fisik dan emosi sebagai konsekuensi dari jalan hidup ayahnya yang melanggar hukum Tuhan. Teladan seorang kepala keluarga memberi dampak yang besar kepada keturunannya.

Keluaran 24:16 berhubungan dengan masalah legal (hukum) sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteksnya dalam ayat 24:6-19. Yehezkiel 18:20 hanyalah mengulang kembali hukum-hukum dari kelima kitab Musa. Karenanya, konteks dari ayat-ayat yang mengatakan bahwa anak tidak bertanggung jawab atas dosa orang tuanya adalah mengenai aspek-aspek hukum (legal) dalam sistem peradilan Yahudi. Sedangkan ayat-ayat yang mengatakan bahwa anak turut menderita akibat dosa bapaknya berhubungan dengan pemberontakan orang tua terhadap perjanjian dengan Allah dan pembalasan Allah terhadap  pemberontakan (dosa-dosa) orang tua tersebut.

Karena itu jangan ada seorang pun yang merasa terjebak dalam dosa orang tuanya dan merasa putus asa. Yehezkiel 33:14-15,Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! –tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, … ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” Tidak ada orang yang mewarisi kutukan orang tuanya. Darah Kristus Yesus telah menghapus segala dosa dan penghukuman bagi orang yang bertobat dan percaya.

Yehezkiel 33:14-15,Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! –tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, … ia pasti hidup, ia tidak akan mati.”

Orang tua punya tanggung jawab yang besar dalam mewariskan ajaran dan teladan hidup yang benar kepada keturunan-keturunannya. Warisan paling berharga bukanlah harta tetapi iman dan kebenaran sehingga berkat Tuhan berlanjut terus sampai generasi-generasi selanjutnya. Sebaliknya, teladan buruk orang tua akan memberi dampak buruk dan mengakibatkan penderitaan bagi generasi-(generasi) selanjutnya