judgment-day
Ilustrasi: https://darrellcreswell.wordpress.com/

Hi, akhir akhir ini saya merasa iman saya menjadi kendor dan juga saya merasakan beratnya menjadi Kristen sejati dengan banyaknya aturan yang tidak boleh saya lakukan. Saya jadi merasa stress dan terbebani dengan keadaan ini dan kadang saya menjadi berfikiran tidak peduli dengan apa yang saya lakukan apakah benar atau pun salah dan juga seperti sudah tidak peduli lagi akan neraka. Tetapi baru saja kemarin malam saya disadarkan oleh renungan yang sebenarnya sudah saya baca sebelumnya tetapi kurang mengerti yaitu tentang menjual iman. Disitu saya mulai browsing mengenai menjual iman dan saya menjadi disadarkan. Apakah saya sudah termasuk menjual iman saya karena sempat berfikir tidak peduli dengan apa yang saya lakukan? Terima kasih, Gbu

 

JAWAB:

[DSB]:

Seorang sobat waktu kuliah pernah berkata kepada saya,”Gua sih Kristen karena paling gampang, gak usah ngapa-ngapain, gak usah solat, dibaptis, atau yang lain. Pokoknya bilang aja agamanya Kristen.”

Sobatku itu, sebut saja namanya Somat memang tidak pernah pergi ke gereja, kecuali saat ingin mencari jodoh, barulah dia datang ke salah satu kebaktian di sebuah gereja.

Memang masih banyak Somat-Somat lainnya yang menyandang agama Kristen namun bahkan kegiatan rutin agama Kristen pun tidak dilakukannya. Untuk Somat, kita mudah sekali identifikasi dan memberikan judgement bahwa dirinya tidak akan selamat masuk Surga karena Tuhan tidak akan mengenal dia di pintu Surga (Mat 7:23)! Namun sangat banyak orang Kristen yang sudah menjalankan ibadah agama ini (bahkan dengan baik, mungkin tidak pernah absen kebaktian minggu), tetapi sebenarnya dirinya pun belum diselamatkan!

Ini disebabkan karena banyak orang Kristen mengadopsi Injil yang tidak sepenuhnya. Orang-orang ini menganggap bahwa hanya dengan percaya “Yesus adalah Anak Allah, mati menebus dosaku”, ia sudah memperoleh hidup yang kekal. Memang benar bahwa keselamatan adalah oleh IMAN, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perbuatan baik (Efesus 2:8-9), namun yang jadi masalah adalah, IMAN yang seperti apa yang dapat menyelamatkan hidup kita?

Iman yang sejati yang dapat menyelamatkan hidup kita adalah iman yang menyerahkan sepenuh hidup kita kepada Sang Juruselamat untuk hidup bersama-sama dengan-Nya, yang dimulai pada detik kita menyatakan diri percaya kepada Dia. Percaya (believe) adalah meyakini bahwa suatu fakta benar adanya. Namun percaya yang menyelamatkan atau iman, lebih tepatnya menggunakan kata bahasa Inggris “trust”, yang mana artinya mempercayakan diri.

Iman yang menyelamatkan adalah iman yang meliputi 3 hal: pikiran, perasaan dan kehendak. Di mana kita bukan sekedar percaya kepada Yesus (emosional), tetapi juga percaya bahwa Yesus sudah mati untuk menebus dosa kita  (pikiran), dan rela menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada-Nya, untuk melakukan segala kehendak-Nya  dalam hidup kita (kehendak). 

Itulah sebabnya Yakobus pada Yakobus 2:18-20 mengatakan:

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

Mengikut Yesus berarti berusaha konsisten untuk melakukan kehendak-kehendak-Nya. Ini adalah suatu paket yang tidak dapat kita pisahkan yang kita terima saat kita mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Mengenai pertanyaan Sdr, kami kurang jelas dengan konteks “menjual iman” yang Anda maksudkan sehingga tidak bisa bicara banyak dalam hal tersebut. Namun prinsip yang kami utarakan di atas semoga sudah cukup menjawab pertanyaan Sdr.