Ilustrasi: istimewa
Ilustrasi: istimewa
Perkenalkan nama saya Anne (red:bukan nama sebenarnya) dan salam kenal untuk para admin asksophia

Saat ini saya sedang bergumul untuk masalah pasangan hidup. Saya beberapa waktu belakangan ini dekat dengan seorang pria yang notabene adalah seorang hamba Tuhan (Evangelist) lulusan salah satu STT ternama di Indonesia. Di awal-awal kedekatan kami, aku hanya menganggap dia kakak aku walau usia kami hanya berbeda 1 tahun saja, saat ini usia aku 26th sedangkan dia 27th.

—— cut——-

Dan pada kesempatan itu aku bilang kalau aku sebenarnya sayang sama dia dan dia juga bilang kalau dia sayang sama aku dan pada akhirnya dia bilang kalau kita sama-sama berdoa tanya sama Tuhan apakah kita berjodoh atau tidak?
Karena kita ingin menjalani hubungan yang serius sampai pernikahan nantinya. Kalau pun tidak berjodoh, kita kan masih bisa sahabatan saja, dia bilang gitu.

——cut————–

 yang menjadi pertanyaan aku bagaimana sih sebenarnya cara mendengarkan suara Tuhan? Dan bagaimana caranya membedakan antara suara Tuhan dengan suara hati? Aku sudah pernah mencoba tapi aku masih nggak yakin itu suara hati atau benar suara Tuhan?

Saya tunggu balasannya ya dan terima kasih untuk bantuannya..
Tuhan Yesus memberkati

 

Anne

 

JAWAB:

[DSB]:

Dear Anne,

Kalau dua orang pria dan wanita sama-sama menggumulkan mengenai “apakah dia pasangan hidup saya?” di hadapan Tuhan, tentu ini merupakan hal yang menyenangkan hati Tuhan. Ini berarti kalian berdua mau mengundang Tuhan, meminta afirmasi dari Tuhan dalam hubungan kalian berdua, entah apa pun jadinya hubungan tersebut. Kami sangat mendukung para pasangan menggumulkan terlebih dahulu sebelum mengatakan “YA”.

Nah kalau begitu bagaimana selanjutnya? bagaimana mengetahui bahwa kehendak Allah itu untuk lanjut ke hubungan pacaran atau tidak?
Alkitab sudah menuliskan dengan jelas bagaimana kita dapat mengetahui kehendak Allah:

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kita dapat memperbaharui pikiran kita, agar hikmat kita, pertimbangan kita itu sesuai dengan kehendak Allah? Inilah sebenarnya konklusi dari pertanyaan Anne tersebut.

Kita memperbaharui pikiran kita tidak lain dan tidak bukan adalah dengan melalui Firman-Nya. Bagaimana lagi kita dapat mengetahui keinginan sahabat kita? Tentu dengan sering-sering bergaul dengannya, sering bercakap-cakap dengannya, membaca buku diarynya (kalau diijinkan tentunya :)) Nah hal yang sama berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Alkitab adalah Firman-Nya yang absolut, satu-satu-Nya Firman yang sah yang masih ada pada jaman ini. Kita dapat mengerti kehendak-Nya melalui Firman-Nya ini.

Ok, sekarang setelah memahami prinsip utama kehendak Allah, maka bagaimana menjawab pertanyaan apakah hubungan ini kehendak Allah atau bukan? Kalau Anne mengharapkan jawaban yang jelas, terdengar, pasti, dari Tuhan, sudah pasti Anne tidak akan pernah mendapatkannya. Kehendak Allah yang perlu diketahui manusia sudah dinyatakan semua dalam Alkitab, hal lain selain itu berarti dengan sengaja Allah sembunyikan untuk kebaikan kita (Roma 8:28), dan untuk kemuliaan-Nya. Maka kitalah yang harus menguji sendiri mengenai keputusan yang akan Anne ambil tersebut berdasarkan Firman Tuhan dan hikmat yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita.

Prinsip Firman Tuhan yang diberikan kepada kita untuk mencari pasangan hidup sebenarnya sangat sederhana, yaitu:

1. Monogami (Markus 10:6-9)

2. Berlawanan Jenis (tidak gay, maupun lesbian) (Roma 1:27, Markus 10:6)

3. Seiman (2 Korintus 6:14)

Dengan hikmat manusia, kita boleh saja menambahkan prinsip ini menjadi ABCDEF untuk mempertimbangkan seseorang:

  1. Appearance: bagaimana tampilan fisiknya, apakah kita menyukainya atau tidak? Apakah Anda dapat menerima kelemahan-kelemahan fisiknya?
  2. Background: Apa latar belakang keluarganya? Dari mana ia berasal? Apakah Anda atau keluarga Anda keberatan dengan asal suku dari orang tersebut?
  3. Character: bagaimana karakternya? Apakah dapat menerima karakter buruknya? Setiap orang pasti memiliki kelemahan dan tidak ada orang yang berkarakter sempurna. Namun apakah karakternya terlalu buruk untuk kita terima sebagai pasangan hidup?
  4. Devotion: Siapa sebenarnya yang menjadi Tuan atas hidupnya? Apakah ia benar-benar berusaha untuk mengabdi kepada Tuhan Allah, ataukah mengabdi kepada tuhan yang lain juga?
  5. Education: Bagaimana pendidikannya? Apakah ada perbedaan yang menyolok dalam pendidikan, atau apakah pendidikan sang wanita lebih tinggi (yang mana dapat membuat si pria minder, atau potensi penerimaan gaji yang lebih besar dari si pria)
  6. Financial: Bagaimana tingkat ekonomi dia dan keluarganya? Apakah gapnya cukup besar dengan keluarga atau diri Anda?

bahkan kita bisa menambahkan sampai G, H, I ….. sampai Z. namun prinsip yang Alkitab ajarkan hanya ada 3 saja seperti yang tertulis di atas.

Nah, dari sini, Anne bisa menggumulkan calon Anda ini apakah OK atau tidak OK. Jangan lupa terus berdoa menyerahkan hubungan kalian di dalam Tuhan. Pasti Tuhan akan menjawab dengan cara-Nya dan membuat kita mengetahui akhirnya apakah ini “The ONE” atau yang lain.

Hal lain yang mungkin dapat dipertimbangkan, sekalipun kita punya berbagai pertimbangan dalam memilih seorang kekasih, namun memang kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah kita cocok atau tidak dengan orang tersebut sampai kita benar-benar menjalin hubungan dengannya. Maka kalau dalam pertimbangan dan doa Sdr tidak menemukan masalah yang krusial untuk menolak sang pria (tentunya dengan 3 syarat dalam Firman Tuhan terpenuhi semua), mungkin Anda dapat mempertimbangkan untuk mencoba jalan bersama terlebih dahulu dan melihat bagaimana Tuhan memimpin hubungan kalian berdua tersebut, atau mempertimbangkan bersahabat terlebih dahulu selama beberapa waktu (berilah waktu misalnya 6 bulan atau maksimal 1 tahun agar perasaannya tidak terombang-ambing terlalu lama) dan kemudian mengambil keputusan go or no go.