Capture
Ilustrasi: Istimewa

Hallo kak,

Sebut saja aku MXR. Aku kristen 16 mau 17 tahun. Aku punya pacar seorang kristen juga yang umurnya 18 tahun. Awal kami pacaran ga ada apa2. Kami baru berani pegang tangan setelah 3 bulan pacaran. Namun, setelah itu, kami tambah meningkat. Maksudnya, mulai berani rangkul. Cium kening. Aku seneng kalau hanya itu. Aku kira tanda sayang.. sampai suatu hari dia cium pipiku dan peluk. Aku agak kaget. Tapi aku anggap wajar. Selama tidak cium bibir menurutku. Saat ini kita sudah mau 10 bulan. Kemarin dia tiba-tiba mencium bibirku. Aku kaget tentu saja. Tapi aku takut dia marah. Aku diam karena dia memang hanya menempelkan bibirnya saja. Tidak sampai masuk atau mengulum bibirku. Namun, baru saja dia chat denganku. Dia ingin mencoba mengulum. Aku takut. Aku menolak. Aku jadinya juga menolak dia menempelkan bibirnya. Dia semakin marah. Btw, sebelum dia pacaran denganku, dia sedikit nakal. Dia merokok. Namun setelah denganku, dia benar2 berhenti. Satu hal yang kusuka. Dia sangat jujur. Nah, dia tadi mengancam akan merokok lagi karena dia pikir untuk apa bibirnya bersih kalau tidak menciumku. Jadi dia ingin mengotorinya lagi dengan rokok. Aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak mau cium bibir karena dosa. Dia malah bilang tidak pantas denganku karena aku alim sedangkan dia tidak.
Kak. Aku bingung. Harus bagaimana? Aku sayang dia. Tapi dia seperti itu. Dia anak baik2 kok. Hanya saja entahlah kenapa dia gitu. Aku harus gimana, kak?? Sama sama dosa kan.. menurutinya cium bibir atau dia merokok. Tapi ciumnya tadi dia bilang hanya ingin nempel saja. Dia tidak jadi ingin mengulum. Tapi kan sama saja.. di satu sisi aku tidak mau kami berdosa karena cium bibir. Sisi lain nanti dia yang berdosa karena merokok… aku sayang dia, kak…. tolong beri jawabab yah, kak…
Terima kasih, kak.
MXR

JAWAB:

[DSB]:

Dear MXR,

Pacaran pada masa-masa remaja seperti MXR memang sangat menyenangkan. Istilahnya ‘darah muda’ yang ada pada diri MXR dan kekasih, memang seakan-akan selalu menuntut kita untuk menunjukkan kasih sayang dalam bentuk keintiman. Hal ini memang wajar dan by design  atau ‘sudah dari sononya’ begitu. Namun hal yang indah ini akan dengan sangat cepat menjadi neraka dalam kehidupan kita jika kita melanggar batas-batas hubungan pacaran yang sehat yang sesuai dengan firman Tuhan. Karena itu kami sangat salut dengan MXR yang penuh dengan semangat untuk menjaga kekudusan hidup. Kami di sini sangat mensupport MXR yang berjuang untuk hidup benar dan kudus dalam pacaran.
Sayangnya untuk dapat menjaga kekudusan hidup dalam berpacaran, dibutuhkan kerjasama dari 2 pihak yang saling mencintai. Kedua belah pihak perlu memiliki pikiran dan standar hidup yang sama untuk mengusahakan kekudusan itu. Akan sangat sulit apabila salah satu pihak terus menuntut sesuatu yang menurut kekasihnya dilarang untuk dilakukan. Dampaknya sang pria dapat merasa tertolak sehingga muncul amarah dan perselisihan di antara pasangan ini. Dalam hal ini hubungan kalian pun akan dipertaruhkan: akankah mengijinkan ciuman, ataukah putus?

Dear MXR, mari kita membahas dari sudut lainnya. Berhenti merokok setelah pacaran itu suatu hal positif, namun pertobatan dan pertumbuhan rohani itu dapat menjadi hal yang lain. Maksud kami, MXR perlu melihat apakah berhentinya merokok karena mencintai Tuhan, atau karena mencintai MXR, atau bahkan karena mencintai diri sendiri (ada perkataan “untuk apa bibir bersih dari rokok kalau tidak boleh mencium”). Berhenti melakukan suatu kebiasaan buruk bukan karena pertobatan yang sungguh tidak bernilai di mata Allah. Sekali waktu komitmennya akan sirna dan kemudian akan dilakukan kembali bahkan mungkin tanpa ada rasa bersalah.

Maka kami berbangga melihat MXR yang bergumul keras untuk mengijinkan apakah rokok atau cium bibir. Karena keduanya memang bagi kita bukanlah pilihan. Salib bagi orang Kristen berarti bersedia menderita, sakit hati, tidak mendapat kesenangan demi menjalankan hidup yang berkenan kepada Allah.

Dear MXR, kami berharap MXR tetap menjadi tiang kebenaran bagi teman-teman MXR, dan terlebih bagi kekasih MXR. Dalam hal ini sang kekasih perlu MXR bantu agar dapat mengerti apa arti hidup menjadi seorang Kristen. MXR perlu bicara dari hati ke hati dengan kekasih untuk menjelaskan bukan hanya gaya hidup pacaran Kristen yang benar, tetapi juga bagaimana Kristus dapat hidup dalam hati dia, karena mungkin sekali kekasih MXR belumlah menjadi seorang Kristen yang sejati (lahir baru). Apabila memungkinkan, MXR dapat mengajaknya untuk berdiskusi dengan gembala setempat atau pembina remaja/pemuda yang dapat membantu menjelaskan mengenai hal tersebut.

Mengenai apakah lanjut atau harus ‘end’ hubungan kalian, sangat bergantung dengan bagaimana respon sang pria terhadap ajakan untuk hidup di dalam Kristus ini.

Kalau MXR sendiri masih merasa jauh dari Tuhan atau bingung dengan apa yang baru kami jelaskan dengan lahir baru, silakan membalas email kami. Dengan senang hati kami akan menjelaskan lebih lanjut secara pribadi kepada MXR.

Berdoalah dan Tuhan akan menolong MXR dalam menghadapi pacaran pada masa remaja yang penuh gejolak ini.

[DSB]