Proverbs-22-6Ilustrasi: disciplr.com

Hi Sophia, saya roy mau nanya nih,  kebanyakan manusia sejak lahir sudah “dipaksa” untuk memiliki  agama sesuai agama dari orang tua nya, saya sendiri beragama kristen dan terus diberi pelajaran mengenai kekristenan dari sejak kecil, klo saya terlahir di keluarga muslim mungkin saya tidak akan tau tentang kristen, jadi pertanyaan saya kenapa saya harus jadi kristen?? apa yang membedakan agama kristen dan yang lain??

Mohon balasannya ya team askingshopia,, i’ll waiting..

Terima kasih

JAWAB:

[DSB]

Dear Roy,

Pertanyaan yang sangat bagus! Banyak orang yang mempunyai suatu agama tertentu hanya karena warisan orang tuanya, dan parahnya tidak mempertanyakan keyakinannya itu, malahan membelanya mati-matian walaupun tidak memiliki argumen yang kokoh untuk mempertahankan keyakinannya itu. Sedikit orang, berani mempertanyakan, bersikap kritis dan menantang argumen yang kuat dari keyakinan yang selama ini dipegangnya serta dipegang keluarganya sendiri. Dari sedikit orang ini, lebih sedikit lagi yang akhirnya menemukan argumen yang begitu kuat untuk akhirnya entah mempertahankan imannya, atau malah berpindah ke keyakinan yang lain.

Dalam Kekristenan kami percaya bahwa satu-satunya oknum tunggal yang bertanggungjawab akan pemilihan seseorang untuk percaya kepada Yesus hanyalah Allah itu sendiri. Inilah hal yang pertama-tama perlu kami ungkapkan. Yang artinya sekalipun argumen yang disediakan begitu melimpah dan bukti yang ada begitu powerful namun tanpa pencerahan dari Roh Kudus, seseorang tidak akan dapat berpaling kepada Kristus.

Namun kenyataan di atas bukan berarti tidak ada sesuatu apa pun yang perlu dilakukan untuk membuat orang percaya. Karena Allah bekerja melalui orang-orang, melalui apa saja yang Tuhan dapat pakai untuk berbicara kepada kita dan mempertobatkan kita. Kami merasa perlu mengemukakan hal ini sebagai dasar bahwa apa yang akan kami katakan mengenai keyakinan kami yang teguh akan Injil adalah berlandaskan kepercayaan bahwa Roh Kuduslah yang bekerja di hati manusia, bukan argumen kami.

Sdr MC akan menyampaikan argumen-argumen mengapa harus Kristen di bawah ini, namun sebelumnya ijinkan saya pribadi menyampaikan kesaksian diri saya sendiri, supaya Sdr Roy bukan hanya mendapatkan argumen, tetapi juga kesaksian yang menguatkan.

Saya bukan dari keluarga Kristen. Orang tua saya hingga kini masih belum percaya kepada Kristus. Orang tua saya mendidik saya secara Kong Hu Cu. Namun, dengan penentuan Tuhan, saya dimasukkan orang tua ke Sekolah Minggu Kristen setiap hari Minggu sejak saya TK atau SD kelas 1 atau 2 (saya sudah lupa). Memang pada waktu itu banyak orang tua Budhis dan Kong Hu Cu yang memasukkan anaknya ke Sekolah Minggu yang dilatarbelakangi ketakutan dengan peristiwa PKI. Namun masih banyak orang tua yang tidak memasukkan anaknya ke Kristen, saudara kami yang terdekat pun tidak masuk Kristen, tetapi Katolik. Ini jelas merupakan penentuan dari Surga, bukan sekedar kebetulan orang tua saya yang mengijinkan saya ke gereja. Ini memberikan suatu kesempatan pertama bagi saya untuk mendengar Injil.

Apakah setelah itu saya mengikuti Kristus dengan baik? Kenyataannya tidak! Sama seperti anak-anak lainnya, yang tidak mendapat bimbingan orang tua akan iman Kristen, dan juga tidak memiliki contoh teladan suatu kehidupan bersama Tuhan, maka setelah beberapa tahun ikut sekolah minggu, saya pun berhenti ke gereja. Orang tua tidak memaksa, bahkan mereka senang karena berharap saya masuk agama Budha. Tapi apakah Tuhan diam? Ternyata tidak juga!

Di SMP saya berkenalan dengan seorang teman Kristen yang sangat berapi-api mengabarkan Injil. Sering berbincang-bincang dengan teman ini, akhirnya saya mengalami kelahiran baru. Ironisnya, teman saya yang mempengaruhi saya untuk menerima Injil ini belakangan diketahui hidupnya kembali lagi ke kehidupan yang lamanya yang jauh dari Tuhan, yang membuktikan bahwa teman saya belum pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Ajaib bukan? Bagaimana kita tidak bisa berkata bahwa ada campur tangan Tuhan dalam hidup kita?

OK sampai di sini, apakah pada waktu itu saya sudah mendapatkan argumen yang kuat mengenai kenapa saya Kristen? Masih belum! Pada awal-awal saya percaya, saya berusaha menyingkirkan dari benak saya bahwa Kekristenan belum tentu benar, bahwa keselamatan belum tentu memang berada di bawah kaki Salib. Saya harus menghapalkan dan menindoktrinasi diri saya sendiri agar yakin bahwa saya sudah diselamatkan, bahwa Kekristenan adalah satu-satunya jalan yang benar di dunia ini. Di sini Allah berencana dan beracara lagi untuk hidup saya. Tuhan mempertemukan saya dengan banyak orang, memperkenalkan saya dengan Apologetika, membuka jalan untuk akhirnya memberikan keyakinan yang kokoh mengapa memang hanya Kristus dan hanya Kekristenan, sama seperti klaim dari Yesus Kristus sendiri. Semuanya ini butuh proses dan memakan waktu yang tidak sebentar, tapi akhirnya sampai juga pada argumen dan keyakinan yang kokoh akan kebenaran Injil .

Ini kisah saya. Sekalipun saya memulai mempercayai Kristus tidak melalui bukti-bukti yang kokoh dulu, melainkan dari pemberitaan Injil yang mana Roh Kudus bekerja meyakinkan saya akan Kristus, namun Tuhan tidak berhenti di situ. Tuhan juga kemudian memberikan keyakinan dari argumen yang kuat akan Injil. Kita tidak percaya Yesus hanya karena ada orang atau Alkitab yang mengatakan demikian, tetapi kami percaya karena bukti-bukti historis serta argumen yang logis, dan koheren (tidak saling bertentangan dan konsisten) hanya dimiliki kekristenan.

Bukti-bukti historis dan argumen yang logis itu meyakinkan kita bahwa Injil itu ditulis oleh para saksi mata langsung, merupakan suatu kebenaran yang bukan khayalan, dan Alkitab dapat dipercaya sepenuhnya.

Sebagian argumen-argumen tersebut kami tuliskan pada beberapa artikel yaitu:

  1. Apakah Yesus Benar-Benar Adalah Tuhan
  2. Apakah Alkitab sudah diubah, diganti, diedit, direvisi atau dirusak?
  3. Apakah Yesus benar-benar ada dalam sejarah?

Kami berdoa semoga Roy dan teman-teman lain yang membaca blog kami boleh akhirnya memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan akan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat pribadi kita.

 

 

[MC]:

Dear Roy,

Secara singkat kita bisa menyimpulkan bahwa perbedaan dan keunggulan iman Kristen dibanding agama-agama lain dengan satu kata: KRISTUS.

Bila kita membandingkan iman Kristen dengan agama-agama lain, ada perbedaan yang sangat mencolok dalam relasi antara “pendiri agama” dan ajaran agamanya. Kekristenan adalah satu-satunya agama di mana sang Pendiri adalah ajaran agamanya itu sendiri. Sebagai contoh, ajaran agama Buddha biasa diintisarikan sebagai Delapan Jalan Kebenaran, ajaran agama Islam diintisarikan dengan Lima Pilar Islam. Di kedua intisari ini, pendiri agama-agama tersebut bukan merupakan inti ajarannya.

Berbeda dengan Yesus, intisari ajaran Yesus adalah pribadi Yesus Kristus sendiri.

  1. Kelahiran Yesus

Bila kita teliti, semua pendiri agama dapat kita temukan silsilahnya dan kita tahu siapa saja orang tua mereka. Buddha dulunya adalah seorang pangeran, Muhammad adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh pamannya.

Berbeda dengan Yesus, Yesus tidaklah lahir dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Kita mengenal ibu kandung Yesus, yaitu Maria, akan tetapi, Yusuf, suami Maria, bukanlah ayah kandung Yesus, karena Yesus dikandung dari Roh Kudus. (Matius 1:20)

  1. Kehidupan Yesus

Tidak ada satupun pendiri agama yang berani menyatakan bahwa diri mereka tidak memiliki atau tidak pernah berbuat dosa.

Berbeda dengan Yesus, Yesus pernah menantang para lawannya untuk membuktikan bahwa Ia telah berbuat dosa, akan tetapi, mereka tidak dapat menjawab tantangan tersebut. Yesus tidak memiliki atau pernah berbuat dosa! (Yohanes 8:46, Ibrani 4:15)

  1. Kematian Yesus

Semua pendiri agama telah meninggal, bahkan ada beberapa yang kita masih ketahui letak kuburan mereka.

Berbeda dengan Yesus, Yesus memang telah mati, bahkan Ia mati secara tragis, yaitu dihukum mati dengan cara disalib. Akan tetapi, kematian Yesus bukanlah akhir dari cerita Yesus, sebaliknya, kematian Yesus adalah awal dari sebuah kemenangan, yaitu kemenangan atas dosa dan maut. Mengapa? Karena hanya Yesus satu-satunya yang telah mati, kemudian bangkit, lalu tidak mati kembali. (I Korintus 15:53-57)

  1. Ajaran Yesus

Bila kita pelajari, semua pendiri agama menyatakan bahwa mereka hanyalah penunjuk jalan untuk menuju suatu tujuan, baik itu disebut Nirwana, Moksa, Surga atau apapun juga. Mereka menyatakan mereka telah mendapatkan atau menemukan sebuah kebenaran, baik itu dengan jalan sebuah pencerahan melalui meditasi ataupun penerimaan sebuah wahyu yang diturunkan.

Berbeda dengan Yesus, Yesus menyatakan bahwa Ia bukanlah penunjuk jalan, melainkan Ia adalah jalan itu sendiri. Yesus tidak mendapatkan atau menemukan kebenaran, melainkan Ia adalah kebenaran itu sendiri. Yesus tidak mengarahkan kita ke suatu tujuan, karena Ia adalah tujuan yang hendak kita capai. (Yohanes 14:6)

  1. Identitas Yesus

Di luar ajaran panteisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah allah, betapapun seorang pendiri agama diagungkan oleh pengikutnya, tidak ada satupun di antara mereka yang menyatakan bahwa diri mereka adalah Allah selama mereka hidup. Memang kita lihat terjadi penyimpangan-penyimpangan di mana misalnya Buddha dianggap sebagai dewa oleh sebagian pengikutnya, akan tetapi Buddha sendiri tidak pernah meminta agar ia disembah.

Berbeda dengan Yesus, Ia adalah Allah.

Mengapa Ia tidak memiliki ayah biologis? Karena Ia telah ada sejak kekekalan.

Mengapa Ia tidak memiliki dosa? Karena hanya Allahlah yang tidak memiliki dosa.

Mengapa Ia mati namun bangkit kembali? Karena Allah berkuasa atas maut sekalipun.

Mengapa Ia adalah jalan itu sendiri, kebenaran itu sendiri, dan kehidupan itu sendiri? Karena Ia adalah Allah.

Kami pernah menulis sebuah artikel terpisah mengenai klaim Yesus sebagai Allah, silakan baca di:

Pada kesimpulannya, kembali kita mengingat bahwa keunikan Kekristenan adalah pada pribadi Yesus.

Narasi agama lain menyatakan bahwa manusia diberikan “tugas” untuk mencapai sebuah tujuan.

Berbeda dengan narasi Kekristenan, yaitu: Allah yang berinisiatif datang ke dalam dunia di dalam diri manusia Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan tidak memiliki pengharapan sama sekali. Allahlah yang memulai segala sesuatu, Allah yang bertindak tanpa ada andil manusia sedikitpun di dalam karya-Nya.

Pertanyaannya adalah, apakah kita telah menempatkan dan menerima Yesus sebagai Tuhan, Allah, dan Juruselamat kita?

Agama lain mengajarkan bahwa kita harus melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan.

Berbeda dengan Kekristenan di mana kita hanya perlu menerima anugerah yang Allah telah sediakan di dalam Yesus Kristus melalui iman tanpa diperlukan tindakan kita sedikitpun.

Sudahkah kita menempatkan Yesus Kristus di tempat-Nya? Yaitu sebagai Allah, Tuhan, Raja, dan Juruselamat di dalam hidup kita.