Love

Ilustrasi: mosunolukoga.com
syalom, saya mau curhat

saya mempunyai pacar dan kita sudah berciuman sampai dia meraba tubuh saya, kita LDR (tiap kali melakukannya alasannya dia merindukan saya) namun kita tidak berhubungan seks. kami hanya sebatas itu. namun saya seorang yang taat kepada Tuhan sehingga pada akhirnya saya merasa berciuman merusak bait Allah. saya suka berpikir ini baik atau tidak namun saya tahu ini adalah dosa besar yang di lakukan oleh seorang remaja yang baru beranjak ke pemuda. saya merasa kotor padahal saya seorang yang melayani Tuhan, kami baru berusia 18 tahun. saya ingin memutuskan dia namun kata hati saya selalu berkata jangan nanti kamu akan menyesal nanti dia pasti akan mendapat wanita yang lebih dari kamu dan saya selalu takut dengan apa yang yang di bicarakan orang orang kalo kami putus. namun intinya kami sama2 anak yang takut Tuhan aktif beribadah dan kegiatan gereja. Apa yang harus saya lakukan ? saya bingung ? namun hati saya selalu berkata putuskan saja ? —–cut——

saya tidak tahu kenapa saya bisa curhat dengan kalian yang sedang membaca email ini sedangkan saya belum pernah bertemu namun saya harap Tuhan memberkati kalian yang selalu merespon apa yang kami kirim.

Mirna (bukan nama sebenarnya)

JAWAB:

[DSB]:

Dear Mirna,

Kami sangat menghargai kepercayaan Mirna kepada asksophia. Untuk rahasia Anda, maka nama Anda yang kami tampilkan akan disamarkan.

Roh memang penurut, tapi daging lemah. Bukan hal yang aneh kalau dosa seksual merupakan dosa yang paling sulit ditolak oleh manusia, khususnya bagi kaum muda. Terlebih lagi dewasa ini di mana kita disodori pertunjukkan sensual dari berbagai media setiap hari. Bukan hanya Mirna yang mengalami hal ini, bahkan mungkin bisa 90% orang Kristen muda yang menggumulkan agar hidupnya kudus selama pacaran. Di satu pihak jangan merasa kecil hati, namun juga jangan menurunkan derajat kewaspadaan Anda.

Dear Mirna, umur 18 tahun memang masih sangat panjang, menurut hemat kami belum saatnya untuk memberikan komitmen yang lebih dalam berpacaran (misalnya tunangan), dan karena jalan pacaran yang masih panjang (ditambah lagi hubungan yang terjadi adalah long distance), maka keintiman harus benar-benar dijaga, supaya Mirna dan pasangan bisa selamat sampai ke pelaminan.

Putus atau tidak putus memang akhirnya akan selalu menjadi pertanyaan bagi kita yang mau hidup kudus. Mirna mungkin belum tahu kalau banyak juga orang Kristen lain yang melakukan hal yang sama seperti Mirna dan sampai sekarang sudah menikah dengan aman damai sentosa setelah berani mengambil keputusan untuk tetap menjaga kekudusan. Maka apa yang akan terjadi setelah kita putus, tidaklah relevan sekarang, dan tidak perlu menjadi persoalan. Yang penting sekarang bagaimana kalau putus, apakah keduanya dapat menjaga diri untuk tidak saling bertemu dan berhubungan dulu sementara waktu sampai perasaan keduanya menjadi netral? bagaimana juga kalau tetap dipertahankan, apakah keduanya berani berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi?

Berkomitmen tidak bisa sendiri, Mirna harus mengikutsertakan sang kekasih dalam rencana penyelamatan hubungan kalian berdua. Coba saja Mirna membicarakan masalah ini dengan kekasih, apakah responnya? Kalau responnya positif, berarti masih ada harapan, di mana ia mau menjunjung tinggi kekudusan hidup Mirna. Kalau negatif, berarti sudah lampu kuning akan hubungan kalian berdua, bila ingin mempertahankan kekudusan hidup Mirna.

Untuk tips-tips menjaga hubungan yang berkenan di hadapan Tuhan, silakan membaca posting-posting kami berikut:

Semoga cukup menjawab pertanyaan Mirna.

Kami mendoakan dan Tuhan menyertai Mirna