mengampuni

Halo,
Sy mw curhat nih min. Sy pny tante,beliau udah kristen sejak lama dan beliau udah berdomisili tetap di bali. Setahun yg lalu kami sekeluarga pndh ke bali,krn papa uda meninggal dan masa sewa rumah kami di medan sudah jatuh tempo. Awalnya,beliau welcome dan perhatian pd kami tapi gk lama kemudian kelihatan watak asli beliau.

Seringkali perkataan dan perbuatan2 beliau menimbulkan sakit hati,padahal apa yg kami perbuat sudah benar. Tapi dimata beliau,beliau selalu memandang apa yg kami lakukan salah. Beliau juga seringkali membuat keputusan2 secara sembrono, menganggap apa yg beliau lakukan adalah yg plg benar tnpa mendiskusikan dgn kami,menganggap beliau itu yg plg benar, sering memaksakan kehendak dan tdk mau mendengar teguran ataupun saran,bahkan beliau juga walaupun org kristen tapi masih tetap mempercayai takhayul2 dan melakukan tradisi yg tdk sesuai dgn Firman Tuhan ( tradisi smbhyg di kuburan).

Sekedar info,sebelum saya pindah ke bali saya memiliki pekerjaan tetap di medan. Saya pindah ke bali krn juga dipaksa resign dan diminta untuk buru2 ke bali oleh beliau krn menurut beliau gaji yg saya dapatkan selama di medan tdk memadai. Tapi,di bali sendiri saya smpt bekerja dgn paksaan beliau juga dan gaji yg saya dapatkan malah lbh kecil drpd di medan juga pekerjaannya tdk sesuai dgn kualifikasi saya. Saya sudah menolak dengan halus tetapi tetap saja beliau memaksa dgn alasan harus serba bisa.

Dengan semua perbuatan2 spt itu saya merasa jijik dgn beliau pdhl beliau org kristen. Saya selalu berdoa dan berusaha untuk mengampuni beliau,tapi setiap saya mau mengampuni beliau saya merasa susah dan terus teringat akan perbuatan2 beliau. Perasaan menyalahkan beliau juga masih tetap ada. Jujur,saya merasa tidak tenang dan saya selalu merasa dada saya sakit tiap kali saya mengingat hal2 tsb diatas.

Apa yg harus saya lakukan utk membuang kepahitan ini dan mengampuni beliau yg notabene sulit untuk diampuni?

Mohon bimbingannya ya min. Thx

-Marisa- (bukan nama sebenarnya)

JAWAB:

[DSB]:

Dear Marisa,

Sungguh bukan suatu hal yang mudah hidup dengan Tante Anda. Apa yang telah terjadi membuat Anda merasa marah dan tertekan, sehingga Anda sulit sekali mengampuni tante Anda itu.
Marisa, manusia itu memang mudah bertindak, tapi tidak ahli dalam memperbaiki. Kita mudah sekali dapat membolongi kertas yang kita pakai menulis, tapi memperbaikinya… hampir mustahil. Menambal kertas tersebut pun belum bisa memperbaiki kertas itu secara sempurna. Tidak mampu membuat kertas itu mulus seperti sedia kala.
Demikian juga dengan kita, melukai orang itu sangat mudah. Namun mengampuni dan menyembuhkan luka hati yang sulit. Saya dapat memahami kesulitan itu, terlebih lagi Anda masih tinggal bersama dengan tante Anda itu. Kita memerlukan banyak anugerah Tuhan untuk dapat mengampuni orang lain.
Seseorang pernah mengajarkan kepada saya tentang pengampunan Tuhan. Sebenarnya itu ada di dalam Alkitab kita, yaitu cerita tentang mengampuni 70×7 kali. Mari kita baca sebentar sekali lagi kisah tersebut.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?  (Mat 18:23-33)

 Kalau kita membaca kisah ini begitu saja, mungkin sudah tidak berkesan lagi karena kita toh sudah mendengar atau membaca kisah ini berulang-ulang. Tetapi, saya coba bayangkan kondisi pengadilan yang sama sedang mengadili diri saya, saat ini.
Pengampunan

Yesus berada di tahta-Nya dan mengadakan perhitungan hutang-hutang saya, yaitu kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang pernah saya lakukan kepada Dia. Lalu karena saya sama sekali tidak mampu membayarnya, maka Ia turun dari tahta-Nya, meninggalkan tubuh ilahi-Nya dan menjadi manusia fana, sama seperti saya.

Ia mengatakan bahwa untuk membayar hutang-hutang saya, Ia harus mati di kayu salib. Dan tepat seperti itu yang Ia lakukan di depan mata saya. Ia membiarkan diri-Nya menderita dan mati disalib. Setelah Ia bangkit, Ia berkata pada saya, bahwa saya tidak usah lagi membayar hutang-hutang saya. Saya sudah bebas. Segala dosa dan kesalahan, satu demi satu semua dibereskan dengan sempurna.

Kemudian setelah pengadilan itu, saya bertemu dengan orang yang pernah menghina diri saya di muka umum. Orang ini pernah membentak-bentak saya, dan mempermalukan saya di depan banyak orang.  Pada saat pertemuan itu, dada terasa sesak dan hati terbakar amarah yang sangat dashyat. Orang ini jelas-jelas bersalah, tanpa perlu ada pengadilan untuk membuktikannya. Saya kalap dan sejenak ingin melepaskan kepalan tinju saya dengan segenap tenaga kepada mukanya…..

Tiba-tiba sebelum otak saya memerintahkan tangan untuk bertindak, saya mengingat tahta-Nya, saya mengingat pengadilan-Nya. Saya disadarkan bahwa dosa dan kesalahan saya yang saya pernah lakukan, layak untuk mendapatkan MURKA-Nya. Layak untuk mendapatkan bukan hanya tinju di muka saya, tapi juga di dada saya, di perut saya, di sekujur tubuh saya. Bahkan saya pantas untuk mendapatkan 100000 tinju dari diri-Nya.

 Benar, kita memang tidak akan pernah sanggup untuk mengampuni orang lain. Tidak bisa. Tidak tanpa ada Tuhan Yesus yang terlebih dahulu telah mengampuni saya. Itu adalah kunci kuasa pengampunan. Saat ada Seseorang yang mengampuni saya terlebih dulu, sekaranglah giliran saya menyalurkan pengampunan-Nya kepada orang lain.
 Tuhan akan memampukan Anda, untuk mengampuni tante Anda, dan memberikan hikmat dalam kehidupan Marisa sehari-hari bersama tante Anda.