LDR (2)

Shalom..

Saya tinggal di Pekan Baru saya mau cerita yang saya alami saat ini .Bulan februari kemarin saya diajak teman saya ke acara wisuda temannya. waktu itu yang jadi MC di acara itu sahabat teman saya. Waktu melihat dia MC saya mengaguminya. Pria yang saya kagumi ini kerja di Palembang, jd dia datang jauh2 dari Palembang untuk MC acara wisuda itu. Tiga bulan kemudian saya mengatakan kepada teman saya itu bahwa saya mengagumi sahabatnya itu dan singkat cerita akhirnya kami komunikasi dari HP.

Selama kami komunikasi pria ini bilang bersyukur dengar2 sharingku walaupun dia belum mengenal wajahku dan akhirnya kamipun  buat janji ketemu di Pekanbaru bulan juli 2016. Sebelum dia datang aku selalu mendoakan supaya kehendak Tuhanlah yang terjadi dan pada akhirnya kami pun ketemu di bulan itu juga. Pada waktu kami ketemu pria ini mengajak doa sama karna dia mau serius dan waktu itu dia ngk langsung nyuruh aku jawab dihari itu juga, dia kasih waktu dua bulan untuk menggumulkan sama Tuhan. Satu sisi aku bersyukur melihat pengorbanannya dan keberaniannya untuk mengatakan keseriusannya karna dia belum pernah sama sekali pacaran umurnya udah 27 tahun. Tapi di sisi lain aku sedih karna teman2ku bilang pacaran jarak jauh itu tidak sehat apa lagi masih sekali bertemu pengenalan yng lebih dekat itu blm ada, kami komunikasi bisa dibilang 2 kali dalam seminggu nelpon karna katanya ngk pala terlalu suka nelpon dan dia punya prinsip pengenalan itu bukan karna seringgnya komunikasi tapi sejauh mana keseriusan dalam hubungan itu. Dulu waktu dia kuliah di Pekanbaru dia pernah jd pembina kelompok rohani jadi adik2 yang dibinanya ini dekat samaku dan mereka tau baik buruknya dia dan dari merekalah aku tanyai tentang dia.
Yang mau saya tanya apakah akan kuambil keputusan untuk pacaran? saya masih bergumul..mohon bantuannya terimakasih
Welyana (bukan nama sebenarnya) di Pekanbaru
JAWAB:
[DSB]:
Dear Welyana,

Saya turut senang membaca email Welyana. Apa yang diidam-idamkan sepertinya akan menjadi kenyataan karena sang pria sepertinya ingin menjalin hubungan yang serius dengan Welyana. Dalam memutuskan jadi atau tidaknya pun Welyana yang sekalipun sudah mengagumi sang pria masih mau berpikir lebih panjang dan tidak begitu saja mengiyakan, saya salut sama Welyana.

Keputusan ya dan tidak tentunya ada di tangan Welyana, kami hanya dapat mendukung dan memberikan pertimbangan-pertimbangan.

Memang rule of thumb nya yang namanya pacaran sehat itu sebaiknya bertemu muka dan berkencan secara tradisional. Hal ini membantu kedua belah pihak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Karena dari penelitian, manusia berkomunikasi 70% dari bahasa tubuhnya, sedangkan dari intonasi suara dan isi percakapannya hanya 30% saja. Sehingga pacaran hanya menggunakan telepon saja terlalu terbatas untuk dapat mengenal pasangan kita. Belum lagi kita perlu mengenal keluarga dari pasangan kita terutama karena kita masih tinggal di Asia, di mana pernikahan bukan hanya terdiri dari persatuan kedua orang saja, melainkan juga persatuan 2 keluarga menjadi keluarga besar.

Nah, namun di era sulitnya cari jodoh yang baik masa kini, kami mendorong para pemuda-pemudi untuk membuka kesempatan seluas-luasnya juga melalui teknologi misalnya sosial media dan teknologi chat/video chat. Sosial media merupakan salah satu cara manusia dapat saling mengenal juga satu dengan yang lain, sekalipun dalam konteks yang masih terbatas.

Seorang konselor pernikahan pernah memberikan pedoman bahwa kalau seseorang memutuskan ingin menjalani LDR (hubungan jarak jauh), maka disarankan apabila hubungannya sudah lebih serius (kira-kira setelah memutuskan ingin bertunangan/menikah, atau 1 tahun sebelum menikah), untuk berpindah domisili ke kota yang sama dengan sang calon suami/istrinya. Dengan demikian pengenalan lebih lanjut yang diperlukan dapat terpenuhi sebelum benar-benar mengikatkan diri dalam pernikahan yang suci dan tidak boleh diceraikan.

Demikian pertimbangan dari kami semoga membantu Welyana dalam mengambil keputusan yang tepat.
GBU.