melukai hati, mengharapkan kembali

Dear Admin,
Saya wanita berumur 23 tahun, seorang kristiani sejak kecil.
Beberapa waktu lalu, saya masih berhubungan dengan pacar saya yang beragama Katholik. kami mulai membangun hubungan sebagai teman dekat semasa kuliah sejak 2012 lalu, kemudian di tahun 2015 dia menyatakan rasa suka kepada saya. saya yang juga tertarik padanya, mengiyakan ajakannya untuk pacaran.
kami berpacaran selama 1,5 tahun hingga minggu lalu dia memutuskan hubungan ini.
jujur, selama saya berpacaran dengan dia, saya merasa bingung dan tidak mengenali diri saya. saya menjadi emosian, tidak menghargai dia, tidak berjuang dalam hubungan kami. namun dia tetap berjuang walaupun saya menyakitinya berulang kali.
sampai pada satu ketika, dia berkata bahwa dia memendam semua perkataan saya yang menyakitkan, dan itu mebuatnya tidak bisa melanjutkan kembali hubungan kami. begitu ia pergi, saya merasa kosong dan baru menyadari bahwa dia adalah kebahagiaan dan segalanya untuk saya. namun semua sudah terlambat. saya mnejadi sosok yang mengintimidasi diri saya sendiri akibat kandasnya hubungan saya dengan si dia. ini sangat menyiksa saya. saya sangat mencintai dia namun semua sudah terlambat. saya sadar apa kesalahan saya dan saya mau memperbaiki, namun sudah terlambat. sampai akhirnya saya lari berdoa tersungkur dihadapan Tuhan atas semua kesalahan dan dosa yang saya perbuat sampai melukai hati lelaki yang paling saya kasihi.
saat ini, saya sedang masa pemulihan. saya sudah mengikhlaskan kandasnya hubungan kami, bahkan saya dan dia sudah sepakat untuk menjadi sahabat terbaik satu sama lain *mengingat kami memulai hubungan kami dari sahabat baik juga*, maka kami tidak ingin kehilangan satu dengan yang lainnya.
yang jadi pergumulan saya sekarang,
1. di saat saya sadar, saya memiliki kerinduan untuk dia menjadi kristen dan mengakui Yesus sebagai juru selamat satu satunya.
2. apakah saya boleh mendoakannya setiap hari untuk kesembuhan luka hati yang timbul karena saya? dan apakah saya boleh berdoa untuk iman kristen nya?
3. apakah salah jika saya merasa bahwa melalui kandasnya percintaan kami, adalah jalan Tuhan untuk membuat kami saling belajar? di saat yang bersamaan, saya merasa bahwa mungkin Tuhan ingin memakai hidup saya untuk menjadi saksi bagi mantan saya itu?
jujur, dalam hati saya yang paling dalam, saya merasa tidak akan pernah bisa lupakan lelaki sebaik dia dan saya masih menyimpan sedikit harapan untuk kembali seperti dulu. namun, kalau memang nanti saya kembali bersama dengan dia, saya ingin pastikan dia sudah terima Yesus karena hatinya yang di sentuh Tuhan, bukan karena pasangan.. apakah saya boleh memiliki harapan itu?

 

Kinasih

 

[JAWAB]

[DSB]:

Dear Kinasih,

Membaca email dari Kinasih, kami ikut merasakan pilunya hati Kinasih yang ternyata “terlambat” menyadari arti seorang Budi (saya sebut mantan Kinasih dengan nama Budi saja ya agar mudahnya) yang selama ini ada di samping Kinasih. Memang dengan media email yang sangat terbatas kami belum bisa mengerti dengan sepenuhnya apa yang membuat Kinasih tidak menjadi diri sendiri dan emosional saat bersama Budi 1,5 tahun lamanya itu.
Masalah bisa datang dari diri Kinasih sendiri, tetapi bisa juga akar masalahnya ada pada Budi.

Bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah berlalu dan yang penting Kinasih maupun Budi bisa belajar hal-hal penting mengenai hubungan kekasih melalui kejadian ini. Dan Ya, Tuhan pasti punya maksud dalam hal ini, dan salah satunya tentu Tuhan ingin Kinasih belajar sesuatu.

Dari dari penuturan Kinasih, yang menjadi masalah saat ini, sepertinya Kinasih belum rela dengan kepergian sang mantan. Hal ini rupanya yang membuat Kinasih ingin terus mendoakan iman Budi, dan ingin menjadi saksi bagi dia.

Mungkin juga Kinasih merasakan Budi sebagai unfinished business dalam hidup Kinasih. Kalau memang demikian, cukup Kinasih meminta maaf kepada Budi secara tulus dan kemudian selesai, Kinasih dapat memulai lembaran baru.

Tetapi Kinasih perlu mewaspadai diri sendiri, seandainya perasaan yang dimiliki oleh Kinasih sekarang adalah perasaan dibuang, perasaan tidak berharga, perasaan kehilangan yang egosentrik, sehingga semangat ingin si dia bertobat dan beriman itu sebenarnya adalah hal untuk menutupi keinginan untuk memiliki Budi. Bila hal ini yang terjadi, Kinasih perlu konseling dengan konselor terlatih untuk dapat membantu Kinasih menyelesaikan problem dengan diri Kinasih sendiri tersebut.

Kinasih, kalau dalam kondisi biasa di mana yang berpacaran adalah orang yang seiman, saya akan menghibur Anda dengan mengatakan bahwa belum tentu ini adalah akhir dari kisah cinta Anda dengan Budi. Tetapi, sayangnya Alkitab sekali lagi menekankan rambu-rambu yang perlu kita turuti, demi diri kita sendiri.

Tuhan tidak mendesain KEBAHAGIAAN sebagai tujuan akhir pernikahan. Tuhan mendesain pernikahan sebagai persatuan kedua pihak berlainan jenis untuk melaksanakan mandat Tuhan di bumi ini. Untuk menjalankan panggilan Tuhan yang spesifik bagi tiap orang dalam hidup ini, dan untuk membangun keluarga ilahi. Maka kalau ditanya pada Tuhan apakah mungkin Budi adalah jodohku? Jawabannya tegas TIDAK UNTUK SAAT INI.

Tentu saja tidak ada kesalahan sedikit pun dalam mendoakan Budi untuk imannya, namun alangkah baiknya bila Kinasih dapat terlebih dahulu menetralkan perasaan Kinasih terhadap Budi.

Sekarang yang paling penting setelah hubungan Anda dengan Budi berakhir adalah, netralkan perasaan Anda. Ambilah jarak dengan Budi. Evaluasi apa saja yang dipelajari dari kejadian ini, hubungkan dengan petuah-petuah bijaksana mengenai relasi dari Firman Tuhan. Dengan demikian akan mempersiapkan Kinasih untuk hubungan ke depannya, dengan siapa pun di masa mendatang Kinasih akan menjalin hubungan.

Kita tidak tahu sepenuhnya apa maksud Tuhan dengan kejadian ini, tapi kita dapat percaya bahwa kalau Tuhan memutuskan pasti untuk kebaikan Anda sendiri. Kinasih pun tidak tahu kan, kalau jangan-jangan Tuhan sudah menyediakan pria yang jauh lebih baik dari Budi?

GBU