salam sejahtera, shalom . saya orang kristen . saya ingin bertanya mengenai kitab imamat , bilangan dan yosua. dalam kitab tersebut tertulis apabila dalam perebutan tanah perjanjian dimana setelah menguasai kota tersebut allah bernubuat untuk membunuh laki-laki, anak-anak ,perempuan yang sudah tidak perawan lagi serta lembu dan ternak. dan banyak kekerasan yang dinubuatkan. jg seperti tanpa sengaja menyentuh tabut allah dan langsung dibinasakan. kekerasan dan aturan dalam hukum taurat itu sangat membuat saya tidak paham. saya pribadi percaya allah bapa yesus kristus mengasihi manusia. tidak akan membunuh dan membinasakan manusia karena kasihnya. maaf saya kurang paham dengan cerita sejarah dalam kitab 2 tersebut. mohon penjelasan. terimakasih

Hendra Wijaya

[JAWAB:]

[MC:]
Dear Hendra,

Dalam Perjanjian Lama, kita memang sering menjumpai bahwa Allah begitu tegas dalam bertindak. Kita melihat bagaimana Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memusnahkan total bangsa-bangsa yang mereka kalahkan, baik itu laki-laki, anak-anak, maupun perempuan (tidak ada perkecualian bagi perempuan yg perawan, mereka tetap dimusnahkan atas dasar perintah Allah). Bahkan di beberapa kasus, seluruh ternak pun harus dimusnahkan (jadi tidak setiap kali ternak harus dimusnahkan).

Belum lagi kita lihat kasus-kasus seperti kematian anak-anak Harun, Akhan, dan Uza. Namun kita sebetulnya tidak dapat berhenti sampai di sana. Bagaimana dengan orang-orang di Sodom & Gomora, atau anak-anak sulung bangsa Mesir?

Hal ini nampak berbeda sekali dengan Allah di Perjanjian Baru, di mana Yesus mengajarkan begitu banyak tentang kasih.

Melihat fakta tersebut, apakah artinya Allah PL berbeda dengan Allah PB? Atau apa mungkin sifat Allah berubah seiring berjalannya waktu?

Pertama-tama marilah kita meluruskan satu hal. Ketegasan Allah sesungguhnya bukanlah hanya dicatat di dalam PL, tetapi juga di dlm PB. Kita ingat bagaimana Allah menghukum Herodes (Kis 12:20-23), ataupun kematian suami-istri Ananias & Safira (Kis 5:1-11).

Jadi, kita lihat bahwa Allah PL dan Allah PB bukanlah Allah yg berbeda, ataupun sifatnya berubah.

Lalu mengapa Allah yg penuh kasih nampak begitu kejam?

Kita harus ingat bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, & Penguasa segala sesuatu.

Sebagai Pencipta, Pemilik, & Penguasa, sesungguhnya Allah memiliki hak 100% untuk menentukan apa yg Ia ingin lakukan kepada ciptaan miliknya yg Ia kuasai. Hidup yg dimiliki oleh setiap makhluk adalah hidup yg diberikan oleh Allah. Maka Allah berhak mengambil hidup itu kapanpun Ia menghendakinya dengan cara apapun yang Ia mau. Kita melihat bahwa cara Allah mengambilnya dapat beragam, ada yg karena tua, ada yg karena sakit, namun ada pula yg diambil Allah melalui cara-cara yg bagi kita nampak kurang baik, seperti pembunuhan, bencana alam, dll. Apapun caranya, kapanpun waktunya, tidak ada satu nyawapun di dalam dunia yg akan binasa bila bukan Allah yg menginginkannya.

Saat Adam sebagai wakil seluruh umat manusia yg akan ada jatuh ke dalam dosa, Allah telah menjanjikan penghukuman bahwa manusia akan mati. Melihat kenyataan penghukuman tersebut, kita harus menyadari bahwa begitu kita lahir ke dalam dunia, setiap dari kita sesungguhnya adalah seperti seorang penjahat yg telah dijatuhi hukuman mati & hanya sedang menunggu hari di mana hukuman tersebut dijalankan.

Inilah penjelasan pertama yg dapat kami berikan.

Lebih dalam lagi, bila kita berbicara tentang sifat Allah, kita tidak bisa &tidak boleh memisah-misahkannya. Maka kita harus ingat, Allah bukanlah hanya Allah yg Maha Kasih, tetapi juga Allah yg Maha Kudus & juga Maha Adil. Kasih Allah tidaklah lebih tinggi dibandingkan kekudusan & keadilan Allah. Bila kita meneliti lebih dalam beberapa kasus yg sudah kita sebutkan di atas, kita akan melihat kebenaran tersebut.

Kasus bangsa Kanaan misalnya, kita lihat bagaimana Allah sudah berjanji kepada Abraham bahwa bangsa-bangsa tersebut akan dimusnahkan karena kejahatan mereka (Kejadian 15:16), tetapi memang waktunya belumlah saat itu. Janji inilah yg kemudian dipenuhi Allah ketika Yosua memimpin orang Israel memasuki Kanaan. Di sinilah kita liat keadilan Allah.

Hal ini juga terjadi dalam peristiwa Sodom & Gomora, di mana Abraham mencoba bernegosiasi dengan Allah akan penghukuman kedua kota tersebut. Semakin jauh Abraham bernegosiasi, semakin Abraham melihat & menyadari betapa memang kedua kota tersebut sangatlah jahat. Abraham menyadari bahwa penghukuman tersebut adalah adil.

Kasus Uza yg mati karena ia mencoba menjaga Tabut Perjanjian agar tidak jatuh, nampak kejam & berlebihan. Tetapi bila kita meneliti, jelas bahwa prosesi yg dilakukan Daud telah menyalahi aturan yg Tuhan berikan kepada Musa mengenai tata cara membawa Tabut, yaitu bahwa Tabut tersebut seharusnya digotong imam & bukan dibawa dengan gerobak. Selain itu juga Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada seorangpun yg boleh menyentuh Tabut tersebut. Hukumannya adalah mati, dan hal inilah yg terjadi kepada Uza.

Di sini kita lihat bagaimana Allah begitu menolak kekudusannya dianggap remeh oleh manusia.

Hal ini juga terjadi kepada anak-anak Harun, Akhan, dan bahkan Musa sendiri sehingga Musa dihukum tidak boleh memasuki tanah Kanaan.

Jadi, penjelasan kedua dari kami adalah bahwa kita harus ingat bahwa Allah bukanlah hanya Allah yg mengasihi, tetap juga Allah yg kudus & adil. Tidak satu dosapun yg tidak akan dihukum oleh Allah, baik itu di kehidupan ini ataupun di kehidupan yg akan datang. Kematian hanyalah salah satu penghukuman atas dosa yg telah kita perbuat.

Sebenarnya bila kita lihat & teliti, di sepanjang sejarah, hanya satu kali Allah menjatuhkan penghukuman kepada orang yg tidak bersalah. Namun justru di sinilah kasih Allah dinyatakan secara penuh.

Peristiwa itu terjadi ketika Yesus, yg adalah Allah sendiri, mati disalib. Yesus yg tidak berdosa, dibuat menjadi dosa karena kita, agar melalui kematian-Nya, keadilan Allah akan dosa dapat dipuaskan, kekudusan Allah diberikan bagi umat-Nya, dan kasih-Nya dinyatakan bagi anak-anak-Nya.

Maka hari ini, maukah kita menerima kasih Allah tersebut dengan jalan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita?

Advertisements