Shalom…
Selamat pagi,,
Disini saya mohon masukan anda mengenai pergumulan saya, sebab saya merasa seperti tidak tahu lagi harus melakukan apa?
Saya memiliki seorang pacar yang usianya 5 tahun lebih muda dari saya & saat ini saya berusia 28 tahun. Kami sudah berpacaran tepat sehari lagi 4 tahun.

Kami bukan orang yang sebelumnya sudah saling mengenal, bahkan kami memutuskan untuk menjalin hubungan dengan waktu yang sangat singkat. Pacar saya ini perantau. Awal saya bepacaran dengannya, statusnya masih pendidikan pelayaran & saya pekerja. Namun, saya sadar sejak awal bagaimana status kami masing-masing, makanya saya selalu berdoa pada Tuhan supaya Tuhan memberikan jalan bagi saya, apakah memang dia yang terbaik bagi saya. Saya selalu mohon hikmat agar diberikan jalan untuk hal tersebut. Singkat cerita, setiap apapun pertanyaan kami mengenai hubungan kami kepada Tuhan, Tuhan selalu menjawab & meyakinkan saya bahwa ia memang Tuhan izinkan untuk bersama saya. Ortu  & keluarga besar saya sudah sangat mengenalnya sejak awal dengan baik & di tahun lalu saya pun bertemu mamanya yang menginap dirumah saya untuk menghadiri acara wisuda pacar saya. Sebelum bertemu, memang mama dari pacar saya bahkan keluarganya sudah sering berkomunikasi dengan saya melalu telepon. Intinya, hubungan kami baik dimata orang tua kami masing-masing & saling terbuka.
Akhir-akhir ini saya mulai merasa lelah, sebab saya tidak tahu sampai kapan saya harus menunggunya untuk hubungan yang lebih intim lagi??
Dia memang sudah selesai pendidikan, tetapi proses untuk bekerja sepertinya bukan di waktu dekat ini. Sebab, ada banyak diklat yg harus ia lalui sebagai salah satu syarat bekerja nanti, ujian negara, dsb, itupun memakan waktu beberapa bulan.
Meskipun kami sudah membicarakan mengenai target penikahan kami tapi jujur saya ada rasa lelah dalam menunggu & belum tentu semua itu tepat waktu. Sedangkan waktu terus berjalan, dan usia saya semakin mencapai kepala 3, untuk menikah pun butuh proses waktu, tenaga, juga uang.
Saya seringkali merasa begitu sedih saat ia mengatakan berbagai rencana hidupnya kedepan, mau ini mau itu, ya walaupun saya tau semua rencananya utk masa depannya. Hanya yang membuat saya sedia adalah apakah dia melupakan saya? apakah dia ingat rencana kami kedepan untuk menikah kapan???. Di sinilah yang membuat saya lelah “menunggu”, seolah setiap ia bicara mengenai renacanya kedepan, hanya saya yang harus memakluminya, sementara ia apakah mengerti perasaan saya?
Kami saling mencintai & saya punya keyakinan itu dalam Tuhan, karena kami selalu membawa hubungan kami dalam doa. Hanya sebagai manusia, terkadang saya merasa ada kelunturan dalam keyakinan tsb, jika sampai saat ini masih saja hub kita seperti ini. Selain itu, saya merasa sangat membutuhkan orang lain dalam memberi pendapat.
Apa yang harus saya lakukan? apakah memang saya tetap harus bersabar? atau hub kami harus break dulu mungkin karena jenuh, sampai dia sudah bekerja baru kami bersama lagi? atau bagaimana?
Terima kasih
Monica (bukan nama sebenarnya)

 

[JAWAB]:

[DSB]:

Dear Monica,

Saya dapat melihat kegalauan hati Monica melihat kekasih Monica yang belum terlihat ada tanda-tanda untuk komitmen hubungan yang lebih intim lagi. Monica merasa bahwa kekasih Monica itu tidak dapat mengerti kegundahan perasaan seorang wanita tatkala menjelang usia 28 namun masih berstatus single.

Di satu sisi, terlihat harapan Monica untuk dapat menikah menjelang usia 30 tahun. Hal ini jelas dapat dipahami mengingat usia pacaran Anda yang sudah mencapai 4 tahun (btw, Happy Jadian Day 🥂 ya! ). Usia pacaran yang semestinya sudah cukup matang untuk memutuskan langkah berikutnya.

Namun di sisi yang lain, pacar Monica adalah pria yang baru saja berusia 23 tahun.  Seorang pria yang bahkan belum masuk dalam dunia pekerjaan. Seorang pria yang baru menyelesaikan pendidikannya sedang memusatkan perhatiannya untuk mengembangkan karirnya. Hal ini memang sedikit berbeda dengan wanita yang relatif lebih siap berkeluarga daripada pria setelah lulus kuliah.

Perlu dimengerti bahwa fokus dan pikiran pria untuk mendapatkan karir yang baik tersebut juga terkait dengan peran alamiah dari seorang suami yaitu pelindung, pemimpin dan pemberi nafkah bagi keluarganya.

Bayangkan bila saat menikah sang suami belum memiliki pekerjaan yang memadai untuk hidup keluarganya, hal ini dapat membuat hati suami menjadi galau. Perasaan galau yang akan dialaminya, bukankah sama dengan perasaan galau yang dialami Anda saat ini? Bahayanya, kalau galau ini terus berlanjut dalam waktu yang panjang, maka dapat menghancurkan self esteem (harga diri) dari seorang pria. Dan hal ini berbahaya bukan hanya bagi pribadi suami, tetapi juga bagi seluruh keluarga.

Konflik mengenai “kapan menikah” ini merupakan konflik yang wajar sekali dialami pasangan dengan usia wanita yang lebih tua. Ini bisa menjadi titik kritis bagi Anda berdua, apakah melanjutkan hubungan atau tidak.

Maka semua pertimbangan harus dipikirkan matang-matang, dengan komunikasi yang baik dan jangan lupa disertai dengan doa yang serius untuk masa depan Anda.

Semoga hal ini dapat membantu Anda dan pasangan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Advertisements