Ini adalah jawaban bagian kedua dari pertanyaan Sdr. Anonim di bawah ini:

Halo tim sophia, mau minta saran.
Anggap saya dan emailnya anon saja ya 🙂

Saya punya masalah dengan iman.
Saya percaya semua yg ada di pengakuan iman rasuli.
Tapi tidak percaya bahwa Tuhan itu membimbing setiap proses kehidupan seseorang secara personal.
Saya berpikir bahwa Tuhan melihat mungkin saja, tapi membantu belum tentu. Intinya sih saya tidak percaya yg namanya “rencana tuhan” yg sering disebut2 di gereja . Ini bakal bertentangan dengan konsep freewill. Rencana keselamatan saya percaya.

Masihkah saya disebut kristen?

Hal ini membuat saya tidak terlalu peduli dengan Tuhan. Kenapa? Ya karena saya tidak merasa harus menyembah “seseorang”, hanya karena layak saja.

Minta saran. 🙂

Terima kasih

JAWAB:

[MC]:

Dear Anonim,

Pertanyaan Saudara akan kami bagi menjadi dua. Pertanyaan pertama adalah berkaitan dengan relasi antara kedaulatan Allah dan freewill (kehendak bebas) manusia. Sedangkan yang kedua adalah mengenai mengapa kita menyembah Allah.

Di bagian ini kami akan membahas mengenai mengapa kita menyembah Allah. Untuk membaca pembahasan mengenai kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia, silakan baca Freewill vs Kedaulatan Allah.

 

Pertama-tama, ketika kami menggunakan istilah “penyembahan” atau “menyembah”, yang kami maksud di sini jelas bukan hanya aktivitas setiap hari Minggu yang kita lakukan di gereja. Penyembahan / menyembah yang kami maksud di sini adalah suatu sikap / gaya hidup di mana karakter dan karya Allah dicerminkan di dalam hidup kita. Penyembahan adalah sebuah respons kita kepada Allah akan apa siapa Allah itu dan akan apa yang telah Ia lakukan bagi kita.

Jadi mengapa kita menyembah Allah? Setidaknya ada tiga alasan:

  1. Duty (Tugas): saat Yesus ditanya apakah hukum yang terutama, Ia menjawab bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap jiwa, dan segenap kekuatan kita. Inilah inti dari penyembahan, bahwa segenap keberadaan kita harus ditujukan untuk menyembah Allah.
  1. Delight (Kesukaan): Mazmur 84 menceritakan dengan jelas kerinduan besar dari sang pemazmur untuk terus berada di hadirat Allah. Penyembahan seharusnya menjadi sesuatu hal yang sangat kita sukai dan kita cintai.
  1. Destiny (Tujuan Akhir): bila kita berkaca pada kitab Wahyu, kita akan melihat bahwa aktivitas utama kita dalam kekekalan adalah penyembahan. Maka, penyembahan kita di bumi ini sesungguhnya adalah “latihan” untuk penyembahan sejati yang akan kita lakukan nanti di dalam kekekalan.

Coba bayangkan bila Saudara memiliki seorang teman dan Saudara menolong orang itu membayar hutang 100 milyar, sementara ia tidak akan pernah dapat mengembalikan uang tersebut kepada Saudara. Seharusnya, bagaimanakah sikap teman tersebut kepada Saudara? Bila ia tidak berterima kasih bahkan lalu malah menghina Saudara, bagaimana perasaan Saudara?

 

Bila kita berkaca akan karya Kristus di kayu salib yang telah memberikan segalanya bagi kita, apakah bisa kita tidak menyembah-Nya? Padahal apa yang telah Ia berikan dan korbankan bagi kita tidak akan pernah bisa dibayar bila seluruh alam semesta ini adalah milik kita pribadi! Betapa kurang ajarnya kita bila kita dengan alasan apapun tidak menyembah-Nya.

 

Advertisements